Mimpi Emas Yang Mengubah Nasib

Seorang pria bermimpi mendapatkan emas yang dapat membuatnya kaya. Namun mimpi tersebut juga memberi peringatan yang serius, tutur Rizki Washarti.

Susyono merasa terganggu oleh mimpinya.

Dalam mimpinya, dia melakukan apa yang sering ia lakukan - mencari batu di sungai yang kemudian ia jual untuk mendapatkan uang.

Pekerjaan tersebut tidak menyenangkan, tapi dia bisa mendapatkan upah lebih banyak dibanding pekerjaannya menanam tomat dan kubis.

Mimpi Susyono mengisahkan munculnya seorang pria tua yang tak ia kenal.

Pria tua tersebut berambut putih, jenggot putih dan pakai baju putih. Dia bilang ingin memberi saya boneka emas raksasa.”

Sebelum mimpi yang terjadi pada Mei 2011 itu, Susyono kerap meratapi nasibnya.

Pekerjaannya melelahkan dan upahnya tidak seberapa. Tetapi pekerjaan sangat terbatas di Pulau Buru -pulau terpencil di Indonesia bagian timur.

Dia berharap bahwa nasibnya akan berubah membaik. Tapi entah kenapa tawaran boneka emas raksasa dari pria asing dalam mimpinya membuatnya takut.

Saya tidak ambil boneka itu karena saya takut. Orang tua itu berkata saya harus memberinya sesuatu sebagai imbalannya.”

Ketika ia terbangun, Susyono bingung mengartikan mimpinya.

Ia pun menceritakan mimpi itu kepada temannya, Yono.

Sebelumnya, mereka pernah menonton laporan televisi mengenai emas dan bertanya-tanya apakah emas mungkin juga bisa ada di daerah mereka - di Gunung Botak, tempat mereka tinggal.

“Kami pikir mimpi itu menunjukkan ada emas di gunung,” katanya.

Namun rasanya itu mustahil. Menurut Yono, mereka harus pergi dan mencoba mencari tahu, tapi Susyono enggan.

Ada semacam kecemasan yang ia dapatkan dari mimpinya waktu itu - karena di mimpinya itu disebutkan ia harus memberi imbalan lantaran menerima boneka emas tersebut. Hal itu membuatnya ragu-ragu.

Selama berhari-hari, Yono terus membicarakannya. Mereka tidak akan pernah tahu kebenarannya kecuali jika mereka pergi dan mencoba mencarinya. Dan akhirnya, suatu hari, Susyono setuju.

“Kami membawa beberapa sekop, panci penggorengan dan alat-alat yang biasa saya gunakan untuk mencari batu,” kata Susyono.

Tetapi mencari emas tidak mudah - mereka tidak pernah melakukannya sebelumnya, dan bahkan tidak tahu bagaimana bentuknya kalaupun nanti mereka benar menemukannya.

Mereka menggali dan menggali tanpa tahu persis apa yang mereka lakukan. Mereka merasa harapan mereka sirna, tetapi mereka membawa pulang juga pasir hasil penggalian di sana.

Tetapi kemudian, kata Susyono, “Saya ingat saya punya tetangga yang pernah menjadi penambang emas di Sulawesi.” Maka dia pun menunjukkan pasir hasil penggaliannya kepada temannya tersebut.

Begitu melihatnya, tetangganya tersontak dan mengatakan:

Ini emas! Di mana kamu temukan ini? Bawa saya kesana. Ayo!”

Masih khawatir, Susyono merasa ragu-ragu. Dia tidak menanggapi permintaan temannya.

Ia masih menyimpan rasa cemas terkait keharusan memberikan imbalan dalam mimpinya.

Dia memutuskan, untuk tetap bertani saja. Susyono tidak kembali ke Gunung Botak.

Enam bulan kemudian, harga tomat turun drastis.

Petani tiba-tiba hanya bisa mendapatkan Rp100 per kilogram, dan Susyono mulai bertanya-tanya apakah dia telah membuat keputusan yang tepat.

Akhirnya dia kembali mendatangi tetangganya yang punya pengalaman menambang emas itu dan mengajaknya pergi bersamanya ke gunung.

Ditemani Yono dan seorang lainnya, mereka naik ke Gunung Botak dengan membawa peralatan mereka yang seadanya.

Mereka menghabiskan dua minggu untuk mencari dan menggali, sebelum akhirnya mereka menemukannya - emas, sekitar satu gram.

“Kami sangat senang dan gembira!” kenang Susyono sambil tertawa.

“Kami mencoba ambil sebanyak-banyaknya, mengambil apa pun yang kami lihat,” ungkap Susyono.

Mereka tahu tak ada orang lain di sekitarnya, namun mereka merasa harus berbicara dengan pelan - mereka tidak ingin orang lain mengetahui penemuan mereka.

Lumayan. Dari hasil penjualan emas pertama, Susyono membeli makanan untuk perayaan hari Raya Idul Adha untuk keluarganya.

Sesudah itu, setiap hari mereka menyelinap ke gunung, dan dari waktu ke waktu menemukan lagi emas yang mereka cari. Hingga akhirnya mereka berhasil mengumpulkan 27 gram.

Tapi kemudian sesuatu terjadi yang mengubah seluruh nasib mereka, dan seluruh kampung, bahkan seantero Pulau Buru.

“Orang-orang jadi tahu mengenai emas di Gunung Botak,” katanya. Rahasia mereka terbongkar.

Kuswanto, yang merupakan kepala desa di wilayah Susyono, adalah orang yang pertama mengetahui mengenai harta karun temuan Susyono.

Pada tahun 2011 itu, Kuswanto juga adalah seorang petani dan pencari batu.

“Saya waktu itu sudah curiga karena Susyono dan Yono berhenti bertani. Saya melihat sendiri, bagaimana ulat memakan sayuran mereka,” kata Kuswanto.

Setiap kali Kuswanto bertanya apa pekerjaan mereka sesudah tidak bertani, mereka berdalih sibuk mengumpul batu.

“Tapi saya katakan, 'di mana kalian mengumpul batu?' Saya tahu betul saat itu tidak ada kerjaan cari batu, karena kami hanya mengumpulkan batu kalau ada permintaan saja.”

Kuswanto mencoba mengorek keterangan dari istri Susyono, tapi sang istri tutup mulut.

Sampai suatu hari, ada seorang petani karyawan Kuswanto yang mengatakan bahwa Yono dan Suyono berhenti bertani karena menemukan emas di gunung.

“Itu omong kosong, saya bilang. Tidak ada itu, emas di gunung di Pulau Buru ini. Yang begitu itu cuma ada di dongeng,” ujar Kuswanto.

“Tapi saat saya pergi ke tempat Yono suatu siang, dia tak ada di rumah, dan saya merasa aneh: di rumahnya ada kulkas baru dan TV. Saya juga melihat anak-anaknya bermain dengan handphone.

“Itu benar-benar bikin saya penasaran. Saya tahu Yono tidak punya semua itu sebelumnya. Dia miskin,” kata Kuswanto.

Maka suatu malam, Kuswanto diam-diam membuntuti Susyono dan Yono ketika mereka berangkat ke gunung.

Tapi Kuswanto saat itu sempat kesulitan untuk mengikuti mereka. Batere senter saya mulai redup. Saya jadi panik. Kebetulan saya melihat ada orang di sisi sungai Gunung Botak.

“Saya tidak kenal dia. Saya menduga dia adalah salah satu teman Susyono,” ungkap Kuswanto.

Kuswanto mendekat dan diam-diam mengintip apa yang orang itu lakukan. Pria tersebut ternyata sedang mendulang emas.

Ketika pria itu istirahat, Kuswanto bertanya apakah ia bisa menggunakan peralatannya. Dan sesudah diizinkan ia pun mendulang.

Kuswanto pulang malam itu dengan pasir yang mengandung emas.

“Saya cerita kepada istri saya mengenai pasir emas itu. Tapi dia bilang saya mendingan fokus bertani saja.”

Namun, seminggu kemudian ia kembali ke Gunung Botak dengan peralatan sendiri.

“Tapi ketika saya tiba, saya benar-benar terkejut. Gunung itu penuh dengan orang-orang yang sibuk menggali emas!” ucap Kuswanto.

Pulau hijau

Pulau Buru kaya akan flora dan fauna, tapi memiliki sejarah yang suram.

Pada tahun 1960 dan 70-an, pulau Buru merupakan tempat pengasingan bagi sekitar 12.000 orang tahanan politik yang dituduh merupakan bagian dari partai komunis - salah satunya penulis Pramoedya Ananta Tour.

Dan pada awal tahun 2000, terjadi bentrokan antara kelompok Muslim dan Kristen - tapi setelah itu situasi di pulau Buru relatif stabil dan damai.

Hutan hujan tropis meliputi sebagian besar pulau Buru.

Pulau tersebut merupakan rumah bagi 25 spesies mamalia dan setidaknya empat di antaranya hanya terdapat di Buru dan pulau-pulau sekitarnya.

Selain itu, terdapat sekitar 178 spesies burung.

Sebelum kemerdekaan, pulau Buru pernah dikuasai Belanda dan Portugis.

Bahkan sebelum Belanda tiba di Buru sekitar tahun 1600, Buru dikenal sebagai penghasil minyak kayu putih.

Secara tradisional minyak kayu putih, digunakan untuk meringankan gejala pilek dan menjaga kehangatan tubuh saat sakit.

Tapi sebotol minyak kayu putih ukuran 30ml sekarang ini hanya dihargai Rp50.000.

Meskipun sumber daya alam di pulau tersebut melimpah, hampir 40% penduduk pulau Buru -sekitar 40.000 orang- hidup dalam kemiskinan.

Empat tahun yang lalu, penghasilan sebagian besar warga per hari sekitar Rp30.000 per hari dari bertani. Tapi begitu rahasia Susyono diketahui orang, pulau Buru mulai berubah.

Demam emas

Cerita mengenai adanya emas di Gunung Botak menyebar dengan cepat.

Dalam waktu cepat, orang-orang dari penjuru wilayah Indonesia datang untuk mengadu nasib.

Bahkan, perusahaan dari Cina dan Korea Selatan berdatangan dan membangun tempat pengolahan dan pemurnian mineral.

Masyarakat Pulau Buru dari berbagai lapisan beralih profesi menjadi penambang emas - bahkan para guru. Bahkan sempat terjadi kekurangan tenaga pengajar di Buru karena banyak guru yang meninggalkan murid-murid mereka demi segenggam emas.

Dan orang-orang sempat mendapatkan apa yang mereka cari.

Banyak orang menjadi lebih kaya dibandingkan sebelum penemuan emas di Gunung Botak.

Mereka membangun rumah-rumah yang lebih baik dan membeli sepeda motor - sesuatu yang hingga saat itu tergolong mewah.

Tapi masuknya penggali emas profesional dari daerah lain di Indonesia membuat keadaan menjadi lebih sulit untuk para penambang emas amatir.

Guru-guru secara bertahap kembali mengajar. Warga lainnya, yang tidak memiliki keterampilan khusus, memilih menjadi buruh.

Mereka bekerja selama 12 jam sehari untuk orang lain, di dalam kegelapan tambang emas. Dan tambang-tambang milik para pendatang baru itu tidak memiliki peraturan dan ketentuan apapun.

Tetapi justru, para pendatang baru lah yang mendapatkan uang paling banyak.

Mulai timbul kecemburuan sosial, dan kejahatan mulai merajalela.

“Orang-orang sekarang memiliki barang-barang mahal. Dan seiring dengan ini, pencurian meningkat,” kata Kuswanto.

Selain itu, ada masalah yang lebih besar. Muncul pertikaian mengenai siapa dapat menggali di mana.

Bentrokan pecah sewaktu-waktu, dan menelan korban. Kekerasan yang sudah lama hilang, muncul lagi di pulau Buru.

Pada bulan November 2014, aparat keamanan dan pemerintah setempat turun tangan. Penambangan di tambang ilegal di Gunung Botak dilarang. Tapi larangan itu diabaikan dan penggalian terus berlanjut. Dan nyaris tak ada tindakan.

Jauhnya Buru dari Jakarta 2,260km dan kenyataan bahwa Buru hanyalah satu pulau di antara sekitar 17.000 pulau-pulau lainnya di Indonesia membuat pemerintah pusat sulit untuk mengawasi keadaan di provinsi Maluku tersebut.

Susyono mengatakan ia disalahkan karena membuat demam emas yang menciptakan kekerasan.

Pemerintah tidak senang dengan penemuan saya. Mereka mengatakan jika bukan karena saya, orang tidak akan mati di gunung. Mereka juga menyalahkan saya untuk kerusakan lingkungan yang ditimbulkan tambang emas.”

Kesejahteraan keluarga Susyono mulai meningkat, kehidupan membaik. Tetapi muncul persoalan lain.

“Istri saya pernah menemani saya ke gunung untuk mencari emas. Dan sesudah dia melihat betapa berbahayanya kondisi di gunung Botak, dia melarang saya pergi ke sana lagi. Dia takut saya akan jatuh dan mati, terutama karena ia mendengar mengenai kecelakaan-kecelakaan yang terjadi di Gunung Botak.”

Suatu waktu ia terkena infeksi mata. Ini membawanya pada mimpinya di awal cerita: kakek tua dalam mimpinya memberinya boneka emas namun memperingatkan bahwa akan ada risikonya.

Maka ia mulai menduga masalah di matanya adalah akibat kegiatannya di Gunung Botak, sebagai “imbalan” yang disebutkan si kakek tua serba putih.

Karena itu, Susyono akhirnya memutuskan: tidak akan lagi menambang emas.

“Itu bukan keputusan yang mudah karena saya memang mendapat banyak uang. Tapi pada akhirnya, saya percaya uang yang saya dapatkan harus berasal dari sesuatu yang baik. Lebih baik tidak menjadi kaya dari pada punya uang dari sumber yang tidak diinginkan.”

Dia kembali bertani, dan sesekali masih mengumpulkan batu bila ada permintaan.

Adapun uang yang didapatnya dari menambang emas, sebagian ia gunakan untuk membuka warung di depan rumahnya.

Susyono tidak pernah menyesali keputusannya.

Ilmu yang berbahaya

Untuk mendapatkan emas, bongkahan batu atau pasir yang diyakini mengandung logam mulia dihancurkan dalam air.

Lalu merkuri ditambahkan ke dalam campuran sehingga melebur dengan emas. Senyawa yang dihasilkan akan terekstrasi dari air dan bahan limbah.

Merkuri kemudian dibakar sehingga menciptakan emas.

Penambang emas skala kecil beroperasi di lebih dari 70 negara, dan limbah merkuri adalah salah satu sumber terbesar polusi di dunia.

Merkuri sangat beracun dan dapat menyumbat pembuluh darah, merusak otak, ginjal dan paru-paru.

Uap dari merkuri tetap ada di udara hingga 18 bulan, kata Yuyun Ismawati, pemerhati lingkungan dari organisasi Bali Fokus. Menghirupnya dapat menyebabkan pusing dan merusak paru-paru dalam jangka panjang.

Air limbah yang terkontaminasi merkuri mengalir ke sungai dan masuk ke tanah. Rantai makanan pun terkontaminasi - ikan, ayam, kambing dan sapi semua dapat terkena racunnya.

Efek keracunan merkuri pada anak-anak dan orang tua dapat terlihat dengan cepat. Bagi ibu hamil ada peningkatan risiko keguguran, atau lahirnya anak-anak yang cacat.

Silikosis, TBC, kecelakaan kerja dan infeksi saluran pernapasan adalah kasus-kasus yang umum terjadi akibat dampak dari merkuri.

“Dalam jangka panjang, banyak orang tidak bisa lagi bekerja karena sakit parah atau cacat,” kata Yuyun Ismawati.

Pihak berwenang Buru tidak mengatur atau memantau penggunaan merkuri dan zat lainnya yang digunakan saat proses ekstraksi emas, tetapi sebagian besar merkuri yang masuk ke Indonesia adalah ilegal.

Di samping itu, ada risiko lain.

Pada Mei 2015, Presiden Joko Widodo memutuskan Buru harus menjadi salah satu “lumbung padi” Indonesia.

Beras merupakan makanan pokok bagi masyarakat Indonesia, namun Yuyun Ismawati memperingatkan bahwa air yang terkontaminasi merkuri di sungai bisa mengalir ke sawah.

Beras dari sawah-sawah di Buru kemudian akan didistribusikan di seluruh pulau dan ke bagian lain dari Indonesia.

Dan kemudian, ada kekhawatiran lain.

Pencarian emas Susyono memang terjadi pada permukaan gunung, tapi sekarang penambang sering harus bekerja hingga 40m di bawah tanah.

Mereka bekerja dengan oksigen terbatas dan sebagian besar dalam kegelapan.

Seorang pekerja biasa bekerja selama 12 jam, dan bahkan untuk bisa tiba di tempat kerja atau pulang dari kerja sangat berbahaya - banyak orang jatuh dari jalan gunung yang curam dan sempit.

Banyak pula orang yang mengalami patah tulang dan bahkan banyak orang tewas.

Penambangan emas juga menyebabkan erosi tanah dan longsor - selama musim hujan kecelakaan lebih umum terjadi karena tanah lebih licin dan mudah longsor.

Pemandangan di Buru berubah.

Mimpi yang tak akan pernah berhenti?

Beberapa warga di Pulau Buru seperti Ibrahim, seorang pegawai negeri sipil, mengatakan pemerintah harus bertindak tegas untuk menegakkan hukum dan menghentikan semua aktivitas pertambangan.

“Penambangan telah menciptakan banyak masalah di sini. Kecelakaan yang mengerikan, masalah kesehatan dan pemandangan di sini tidak lagi seperti dulu yang hijau dan indah,” katanya.

Mahani, seorang wanita berusia 60 tahun yang bekerja di Gunung Botak, mengetahui risiko dari seorang penambang emas.

“Ini (tambang emas) adalah tempat yang menakutkan,” katanya.

Ada banyak kecelakaan di sana, orang jatuh, orang meninggal dan orang-orang bertengkar satu sama lain. Tapi saya terus melakukan (menambang), demi (nafkah) keluarga saya.”

Dia sekarang mampu menyekolahkan semua anak-anaknya, begitu pula dengan para tetangganya.

Mereka percaya emas di Gunung Botak adalah rezeki dari Tuhan untuk masa depan yang lebih baik. Anak-anak optimistis tentang kehidupan mereka, dan bercita-cita ingin menjadi dokter, guru dan polisi.

Ada yang mengatakan mereka ingin belajar dan bekerja di Jakarta atau bahkan di luar negeri. Mereka tidak memiliki keinginan untuk menjadi penambang emas seperti orang tua mereka, karena mereka sadar pekerjaan itu melelahkan secara fisik dan berbahaya.

Tapi meskipun banyak orang memahami risikonya, mereka tetap terus menggali.