http://www.bbc.com/indonesian/

22 Februari, 2006 - Published 15:50 GMT

Oleh Mangai Balasegaram
di Hanoi, Vietnam

Wabah diabetes ancam Asia

Le Thu Quy, wanita berusia 48 tahun dari Vietnam, sama sekali tidak mempunyai masalah kegemukan.

Dengan berat 44 kilogram dan tinggi 1,47 meter, dia sepertinya tidak memenuhi ciri-ciri penderita diabetes tipe 2, penyakit yang di negara maju dikaitkan dengan obesitas (kegemukan) dan usia lanjut di negara-negara.

Namun, perawat bertubuh mungil ini menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan di Asia, di mana penyakit diabetes merambah penduduk dari berbagai usia, berat badan dan kelompok masyarakat.

Penyakit itu bahkan diderita oleh anak-anak. Penderita diabetes termuda di Vietnam baru berusia 11 tahun. Di Jepang, seorang anak usia sembilan tahun terkena diabetes. Dan di Singapura, wabah diabetes tipe 2 pada anak-anak mendorong pemerintah meluncurkan kampanye, "Langsing dan Bugar".

"Anak-anak sekarang terkena penyakit yang dulu hanya mengancam kakek, nenek atau orangtua mereka," kata Dr Anil Kapur, Wakil Ketua Yayasan Diabetes Dunia (World Diabetes Foundation - WDF), pada pertemuan puncak internasional tentang diabetes di Hanoi, Vietnam.

Wabah diabetes meledak dengan lebih pesat di Asia dibandingkan dengan kawasan lainnya di dunia - dan lebih parah dari perkiraan para ahli.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan kasus diabetes di Asia akan naik sampai 90% dalam 20 tahun ke depan. Diabetes - dan gangguan kesehatan lainnya yang muncul akibat penyakit itu - akan memicu krisis kesehatan terbesar di abad ke-21.

"Kita berbicara tentang 330 juta orang yang akan terserang penyakit ini dalam 20 tahun ke depan. Ini lebih besar dari AIDS atau flu burung," kata Paul Zimmet, Direktur Institut Diabetes Internasional di Victoria, Australia.

"Memang, pandemi flu burung bisa terjadi. Tetapi kalau anda datang ke Harlem [New York] atau Nauru, anda akan melihat orang di kursi roda karena kakinya diamputasi, atau orang yang menjadi buta atau harus menjalani cuci darah, akibat diabetes."

Asia memiliki lima negara dengan jumlah penderita terbesar di dunia. India dengan 33 juta kasus, Cina dengan 23 juta kasus, Pakistan dengan 9 juta penderita dan Jepang memiliki 7 juta penderita.

Pulau Nauru adalah negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia.

Di sebagian negara termiskin di Asia, angka penderita diabetes bahkan dua kali lipat dari jumlah di banyak negara Eropa. Misalnya, jumlah penderita di kawasan perkotaan Kamboja, yang sebesar 7%, kurang lebih sama dengan negara maju Australia.

Gaya hidup berubah

Gen dianggap sebagai salah satu pencetus penyakit diabetes. Tetapi perubahan pola makan dan kebiasaan berolahraga jelas dilihat sebagai pemicu wabah diabetes di Asia.

"Dalam 10 tahun belakangan di Hanoi, tempat orang berubah dari mengendarai sepeda menjadi motor, jumlah penderita diabetes berlipat ganda," kata Dr Gauden Galea, Penasehat WHO untuk Penyakit Tidak Menular di Kawasan Pasifik Barat.

"Peningkatan seperti itu pada HIV/AIDS akan menyebabkan kepanikan."

Pola makan di kawasan Asia juga berubah dengan pesat. Kini semakin banyak orang yang pergi makan ke restoran dan menyantap makanan cepat saji. Sebagian makanan tradisional yang tidak dimasak di rumah juga menjadi semakin kurang sehat.

Dr Galea mengutip penelitian di kota Ho Chi Minh yang menunjukkan bagaimana bakmi ayam kuah (pho ga), makanan yang populer di Vietnam, memiliki kandungan kalori 23% lebih besar jika dimasak di rumah makan.

Di New Delhi, tempat satu dari enam anak-anak menderita kegemukan, warga memilih untuk makan di restoran sedikitnya tiga kali dalam seminggu, kata Dr Kapur.

Di kota-kota besar Cina, berbagai studi menunjukkan bahwa sekitar 20% anak usia tujuh tahun ke atas memiliki kelebihan berat badan.

Pemicu genetika tampaknya merupakan salah satu penyebab kemunculan diabetes di beberapa negara Asia dan kepulauan Pasifik.

Penelitian memperlihatkan penduduk asal India memiliki gen tertentu yang memperbesar kemungkinan mereka terkena diabetes dan kurang memiliki gen yang melindungi mereka dari penyakit itu, kata Dr V Mohan, direktur Yayasan Penelitian Diabetes di Madras.

Beberapa studi lainnya menunjukkan gizi buruk pada wanita hamil bisa menyebabkan diabetes pada anak dan ibu bertahun-tahun kemudian.

Sebagai penyakit kronis, diabetes secara perlahan melemahkan fungsi tubuh dalam berbagai cara.

"Diabetes menyerang setiap sistem dalam organ tubuh," kata Dr Kapur.

Yayasan Diabetes Dunia (World Diabetes Foundation - WDF), yang membantu proyek pencegahan diabetes di kawasan itu, bekerja untuk mencegah dua dampak berbahaya dari penyakit itu - kebutaan dan kerusakan organ.

Kesadaran masih buruk, bahkan di kalangan petugas kesehatan, tentang penyakit yang 10 tahun lalu relatif jarang, kata Dr Galea.

Kebanyakan negara di Asia masih sangat tidak siap untuk menghadapi krisis kesehatan ini, yang akan membebani anggaran kesehatan dan menyibukkan rumah sakit, menurut para dokter.

"Rumah sakit di India sudah mulai merasakan kesulitan itu," kata Dr Mohan.

Dia mengatakan pemerintah negara-negara Asia harus segera mengambil tindakan.

"Kalau tidak, dalam 10 sampai 15 tahun, kita akan menyaksikan jutaan orang membutuhkan operasi bypass jantung, cuci dara dan perawatan laser," katanya.