BBC Online NetworkHomepageNewsSportWorld Service
BBC Indonesian Cari BBC Siaran Indonesia
 
Warta Berita  
Surat Dari London  
Bahasa Inggris  
  Alamat Kami  
AUDIO
Jadwal Siaran
Latest bulletin Audio Available
Siaran
1100 GMT
Audio Available
Siaran
1300 GMT
Audio Available
Siaran
2200 GMT
Audio Available
Surat Dari London Audio Available


SITUS BBC 
BBC Asia Pacific
East Asia Today
BBC Chinese


Rabu, 08 Oktober, 2003, 12:06 GMT

Membunuh demi kehormatan keluarga



Heshu Yones berulang kali ditusuk
Seorang ayah membunuh anak perempuannya sendiri karena sang anak dianggap sudah terlalu kebarat-baratan. Itulah yang dilakukan Abdalla Yones, seorang ayah berumur 48 tahun terhadap anaknya Heshu, yang meninggal dalam usia 16 tahun.

Sang ayah menusuk anaknya sebelas kali, kemudian menggorok leher anaknya. Abdalla Yones mengatakan ia membunuh anaknya demi menjaga kehormatan keluarga.

Peristiwanya terjadi bulan Oktober tahun lalu, dan minggu ini sang ayah dihukum seumur hidup oleh pengadilan di London. Abdalla Yones meminta agar hakim menjatuhkan hukuman mati pada dirinya. Permohonan yang tidak bisa dikabulkan karena hukuman terberat dalam sistim hukum Inggris adalah penjara seumur hidup.

Selain dari pengakuannya di pengadilan, saya hanya bisa membayangkan alasan yang ada di benak Abdallah Yones sehingga dia sampai hati membunuh anaknya sendiri. Anak perempuan satu-satunya.

Di pengadilan terungkap bahwa ia sangat marah pada anaknya karena ia berpacaran dengan seorang anak laki-laki berusia 18 tahun bernama Nizam El Khouri. Nizam berasal dari Lebanon, dan menurut penjelasan di pengadilan, beragama Kristen, walaupun sebagian media massa melaporkan bahwa Nizam beragama Islam.

Abdalla adalah seorang Kurdi Irak beragama Islam yang sudah 10 tahun menetap di Inggris setelah melarikan diri dari negaranya.

Hakim menggambarkan kasus ini sebagai peristiwa tragis yang terjadi karena perbedaan budaya yang tidak bisa dijembatani. Kasus semacam ini langka, tetapi tidak unik.

Polisi Inggris memperkirakan bahwa tahun lalu terdapat sekitar 12 kasus pembunuhan dengan motif menjaga kehormatan keluarga. Kasusnya selalu menyangkut keluarga pendatang dari Asia Selatan atau Timur Tengah. Peristiwa ini menimpa warga yang beragama Islam, Hindu, maupun Sikh.

Yang jelas inti persoalannya selalu menyangkut perbedaan budaya antara satu anggota keluarga dengan yang lain. Dalam kasus Abdalla Yones, ia merasa anaknya sudah meninggalkan adat-istiadat dan ajaran agama yang mereka bawa dari tanah asal mereka. Sang anak dibesarkan di London dan menganut norma-norma pergaulan yang umumnya berlaku di sini.

Seorang pengurus Dewan Muslim Inggris, Inayat Bunglawala, mengutuk aksi Abdalla Yones. Ia mengatakan pembunuhan semacam itu tidak bisa dibenarkan. Ia mengakui bahwa banyak keluarga Muslim di Inggris kesulitan mendidik anak, mereka kecewa karena anak mereka menolak ajaran agama.

Seorang pengamat sosial Muslim Inggris Yasmin Alibhai-Brown mengatakan orang tua dari kalangan pendatang yang hidup di Inggris panik melihat masyarakat di sini yang "over-sexualised", segala sesuatu dihubungkan dengan seks.

Persoalan yang tabu dan tidak ditampilkan secara terbuka di negara mereka, di Inggris dianggap sebagai tema yang disebut-sebut dan dipertontonkan dalam hampir segala aspek kehidupan masyarakat. Adegan ciuman di depan umum yang membuat risih orang tua, mungkin sudah dianggap wajar oleh sang anak.

Ketegangan budaya semacam ini sangat sering dibahas dalam berbagai artikel, acara televisi, dan filem di Inggris, suatu indikasi tentang persoalan besar yang dihadapi komunitas imigran yang tinggal di Inggris.

Saya menduga bagi umumnya pendatang, Inggris memberi kesempatan untuk memperbaki kehidupan secara ekonomi, tetapi mereka juga harus menanggung biaya sosial juga. Dalam kehidupan sehari-hari dimanapun, kita sering mendengar persoalan yang timbul antara orang tua dan anak, yang berbeda persepsi tentang mana yang boleh dan mana yang dilarang.

Pada masyarakat imigran, masalah seperti ini menjadi lebih besar, karena orang tua masih berpegang pada kebiasaan di tanah asal mereka, sedangkan sang anak sudah terbiasa dengan gaya hidup di tempat yang menjadi perantauan orang tua mereka.

Umumnya ketegangan semacam ini bisa diselesaikan oleh keluarga masing-masing. Mereka bisa memilah antara gaya hidup yang masih patut dipertahankan, dan mana yang harus disesuaikan dengan kehidupan di tempat yang baru.

Tetapi dalam kasus Abdalla dan Heshu Yons hal ini tidak terjadi. Sebelum dia dibunuh, ia sempat menulis surat untuk menjelaskan niatnya melarikan diri. Di situ ia menulis, "selamat tinggal ayah, maaf saya terlalu merepotkan. Kita mungkin tidak akan pernah saling mengerti. Saya mohon maaf karena saya tidak bisa menjadi orang yang ayah inginkan."

 
Surat Lainnya
Alat-alat pemeriksa kesehatan sendiri
Teori kematian Lady Di
Diskriminasi karena agama
Orang kaya pindah ke Inggris utara
Membunuh demi kehormatan keluarga
Motivasi protes orang Inggris
Sensasi terbaru David Blaine
Masyarakat Bangladesh
Olahraga crocquet dan cricket
Sikap turis Inggris di Yunani
Penyelidikan Lord Hutton

 BBC Siaran Indonesia
 indonesian@bbc.co.uk


^^ kembali ke atas

   Indonesia

Warta Berita | Surat Dari London | Bahasa Inggris | Alamat Kami | Jadwal Siaran

© BBC World Service, Bush House, Strand, London WC2B 4PH, UK.