BBC Online NetworkHomepageNewsSportWorld Service
BBC Indonesian Cari BBC Siaran Indonesia
 
Warta Berita  
Surat Dari London  
Bahasa Inggris  
  Alamat Kami  
AUDIO
Jadwal Siaran
Latest bulletin Audio Available
Siaran
1100 GMT
Audio Available
Siaran
1300 GMT
Audio Available
Siaran
2200 GMT
Audio Available
Surat Dari London Audio Available


SITUS BBC 
BBC Asia Pacific
East Asia Today
BBC Chinese


Senin, 15 September, 2003, 12:16 GMT

Masyarakat Bangladesh
Festival Brick Lane
Festival Brick Lane

Kalau anda suka kare ayam, gulai kambing dan musik dangdut, London pasti cocok dengan selera anda, tepatnya London timur, lebih persisnya lagi kawasan di sekitar jalan Brick Lane, tempat pemukiman masyarakat asal anak benua India, khususnya Bangladesh.

Kare dan gulai di sini tidak persis dengan masakan yang kita kenal di Indonesia, dangdutnya pun bukan versi Rhoma Irama atau Inul Daratista, tapi kare dan gulai Bangladesh, dan dangdut versi India. Menurut lidah dan perut saya yang tidak rewel, hampir semua masakan bisa masuk, rasa kare dan gulai Bangladesh sangat nikmat.

Pekan lalu di London diadakan festival Brick Lane, untuk memamerkan masakan dan musik Bangladesh. Brick Lane adalah perkampungan orang-orang Bangladesh, sekarang mereka mulai menyebutnya dengan istilah, Banglatown, seperti Chinatown atau pecinan yang sudah lebih lama terkenal di pusat kota London.

Menyambut festival ini, restoran-restoran di Brick Lane membuka stand makanan dan minuman bagi pengunjung. Sekotak nasi kambing biryani seharga 3 pounds, bisa dimakan sambil berdiri. Kalau haus, selain minuman kaleng seperti coca cola yang sudah biasa, ada kelapa hijau yang dikupas di depan pembeli.

Bagi pengunjung yang lebih suka bersantap sambil duduk, restoran-restoran di Brick Lane menyediakan kursi di udara terbuka untuk memanfaatkan sisa-sisa hawa musim panas.

Walau festival ini didominasi masakan dan musik dari anak benua India, bau makanan dan bunyi musik dari bagian dunia yang lain juga ada. Masakan Thailand dan Inggris, musik banjo dan grup samba meramaikan suasana festival.

Jalan Brick Lane yang tak begitu lebar, penuh sesak dengan pengunjung dari berbagai kalangan. Wanita-wanita berwajah India yang mengenakan sari maupun jilbab banyak terlihat, berdesak-desakan dengan pula wajah-wajah Eropa, Asia Timur dan Afrika.

Bagi pengusaha restoran dan toko di Brick lane dan sekitarnya, yang sebagian besar berasal dari Bangladesh, festival ini merupakan ajang promosi sekaligus memamerkan negara asal mereka di London.

Bagi walikota London dan Perdana menteri Inggris, yang memberi sambutan tertulis, festival Brick Lane, seperti festival-festival dari kelompok masyarakat lain, merupakan kesempatan bagi mereka untuk menunjukkan dukungan terhadap kehidupan modern di London, untuk menunjukkan bahwa London masa kini terdiri dari berbagai bangsa yang semuanya bisa hidup rukun dan makmur.

Brick Lane merupakan simbol yang sangat tepat untuk menggambarkan bagaimana kota London selama berabad-abad menyambut para pendatang asing, yang lari dari penindasan maupun yang bertujuan mencari nafkah yang lebih baik.

Kawasan di sekitar Brick Lane menjadi tempat menetap ketika orang-orang Huguenot beragama Protestan, mengalami persekusi di Perancis yang Katolik. Begitu pula orang-orang Yahudi Eropa Timur yang ingin mencari hidup baru di Inggris.

Sekarang, kawasan ini penduduknya banyak berasal dari Bangladesh. Di dekat Brick Lane, panggilan muazzin bisa terdengar pada waktu sholat.

Sepemahaman saya, masyarakat Inggris, khususnya di perkotaan, sekarang bisa menerima bahwa negara ini tidak hanya terdiri dari bangsa Eropa yang nenek moyangnya lahir di sini, tetapi juga orang-orang dari berbagai penjuru dunia, berwarna putih, kuning, coklat, dan hitam yang sudah menyebut Inggris sebagai kampung halaman mereka.

Tetapi kalau menilik diskusi dimedia elektronik, media cetak dan omongan di sana sini, kecenderungan yang sebaliknya juga terjadi. Koran-koran Inggris berhaluan kanan, rajin memberitakan bahwa Inggris semakin hari semakin digerogoti para pencari suaka, dari Timur Tengah, Eropa Timur, Asia dan entah mana lagi.

Secara resmi, pencari suaka ini datang ke Inggris untuk lari dari penindasan politik. Tetapi semakin banyak pihak yang yakin mereka datang ke negara ini untuk mencari nafkah di sini.

Koran-koran ini dan kelompok penekan seperti Migrationwatch menganggap pemerintah Inggris terlalu lembek menghadapi para pendatang ini, yang mereka anggap menggerogoti tunjangan sosial dan layanan kesehatan gratis yang dibiayai oleh pajak penduduk.

Pemerintah pun bereaksi dengan mengambil berbagai langkah untuk memperketat pintu-pintu masuk ke Inggris, agar tidak disalahgunakan oleh imigran gelap. Orang yang mau menjadi warga negara Inggris pun, mulai tahun depan harus lulus ujian.

Pengetahuan Bahasa Inggris dasar harus dikuasai. Begitu pula dengan pengetahuan dasar tentang kehidupan di Inggris. Pertanyaannya seperti, Hari Natal itu merayakan peristiwa apa, atau siapa perdana menteri Inggris, dan bagaimana cara membayar rekening telepon? Sepele sekali mungkin, dan memang bermanfaat untuk si imigran itu sendiri.

Tetapi selama ini para imigran di sini tidak dituntut untuk lulus tes keinggrisan itu. Pemerintah masih tetap menganggap positif kebhinekaan, tetapi sekarang si Abdul dari Bangladesh, selain dipuji karena memperkaya kebudayaan Inggris modern, dengan adat istiadatnya, sekarang juga diminta untuk tahu, mengerti, dan menerima sifat-sifat keinggrisan yang sudah lebih dulu ada.

 
Surat Lainnya
Alat-alat pemeriksa kesehatan sendiri
Teori kematian Lady Di
Diskriminasi karena agama
Orang kaya pindah ke Inggris utara
Membunuh demi kehormatan keluarga
Motivasi protes orang Inggris
Sensasi terbaru David Blaine
Masyarakat Bangladesh
Olahraga crocquet dan cricket
Sikap turis Inggris di Yunani
Penyelidikan Lord Hutton

 BBC Siaran Indonesia
 indonesian@bbc.co.uk


^^ kembali ke atas

   Indonesia

Warta Berita | Surat Dari London | Bahasa Inggris | Alamat Kami | Jadwal Siaran

© BBC World Service, Bush House, Strand, London WC2B 4PH, UK.