|
 |
 Senin, 23 Juni, 2003, 10:44 GMT
Fenomena buku Harry Potter
|

Harry Potter mania |
Saya lumayan suka membaca buku, tapi rasanya kalau harus antri jam 12 malam untuk membeli buku yang bisa saya dapat keesokan harinya atau seminggu kemudian, saya tidak sanggup. Lebih baik saya tidur di rumah.
Tetapi itulah yang terjadi dalam peluncuran buku ke lima dalam seri Harry Potter, Harry Potter and the Order of the Phoenix, karya penulis Inggris J.K. Rowling. Para penggemar fanatik Harry Potter rela antri di tengah malam agar bisa langsung membaca petualangan terbaru si penyihir muda dan kawan-kawannya.
Mereka yang ogah antri tapi tak mau ketinggalan, sudah bisa memesan buku terbaru ini berbulan-bulan lalu. Toko buku tradisional maupun penjual buku di internet, secara agresif memasarkan buku ini.
Harry Potter memang fenomena luar biasa. Di Inggris saja, sampai bulan ini sudah 13 juta eksemplar buku Harry Potter terjual. Di seluruh dunia, seri Harry Potter sudah laku 200 juta eksemplar dalam 60 bahasa.
Tak heran apabila J.K. Rowling, sekarang lebih kaya dari Ratu Elizabeth. Kekayaannya, menurut koran terkemuka, Sunday Times sekitar 280 juta pound. Hampir empat trilyun rupiah. Lumayan untuk seorang ibu yang mulai menulis Seri Harry Potter ini sambil menimang anaknya yang masih bayi. Makanya tuangkan daya khayal anda dalam tulisan!
Begitu berharganya buku Harry Potter ini, sampai ada orang yang mencuri sebuah truk penuh buku Harry Potter di sebuah gudang di Inggris. Nilai buku yang dimuat di truk itu sekitar 70,000 pound. Media masa pun berlomba-lomba memberitakan segala macam info tentang Harry Potter, secara legal maupun tidak.
Sampai-sampai Pengacara Nyonya Rowling menuntut sebuah surat kabar di New York, yang nekat mencuplik isi buku Potter terbaru, sebelum buku ini resmi terbit
Penerbitan buku Harry Potter yang ke lima lebih dinanti dari biasanya, karena sudah tiga tahun ini tak ada buku Harry Potter baru. Sebelum terbit secara resmi, isi buku ini dijaga bak rahasia negara. Walaupun sudah ada informasi penting yang dibocorkan pengarangnya sendiri, yaitu bahwa ada satu tokoh penting yang mati dalam buku kali ini.
J.K. Rowling mengaku bahwa ia mendapat inspirasi untuk menulis Harry Potter ketika kereta api yang ia tumpangi terlambat di kota Manchester. Jadi kalau angkutan kota, atau bis yang anda naiki terlalu lama ngetem, jangan sia-siakan kesempatan itu membiarkan khayalan anda melayang kemana-mana.
Tetapi ada pesan yang lebih serius dan positif bagi orang yang menganggap, kegemaran membaca itu penting ditanamkan sejak usia muda. Di tengah-tengah maraknya video game, komputer dan siaran televisi yang semakin menyita perhatian anak, ternyata buku masih digemari.
Walaupun sudah dipakai berabad-abad, ternyata sarana penukaran informasi yang satu ini, tidak kalah user friendly dibandingkan dengan komputer yang paling mutakhir.
|
|
|
|