|
Pengakuan Agassi soal Narkoba
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
"Kebohongan yang dijalin seperti kebenaran," ungkap Andre Agassi.
Dia membicarakan surat terinci yang menurutnya ditulis kepada ATP tahun 1997 untuk menjelaskan alasan darahnya positif mengandung obat terlarang. Ini adalah pernyataan yang bisa mencoreng reputasi mantan petenis Amerika ini, melebihi pelanggaran penggunaan narkoba itu sendiri. Kebohongan dan upaya menutupinya, satu hari kelabu bagi dunia tenis. Agassi mengatakan darahnya positif mengandung crystal meth, setelah mengkonsumsi narkoba itu tahun 1997, saat itu prestasinya anjlok dengan dramatis dan rankingnya melorot jauh. Yang luar biasa dia menulis ini dalam autobiografi terbarunya, dan kita hanya bisa memperkirakan bahwa petenis ini mencoba menggambarkan depresi mendalam yang dialami saat itu dan menekankan kebangkitan luar biasa setelah menjalani satu periode kelam. Tampaknya saat itu dia diajukan ke pengadilan independen namun dinyatakan tidak bersalah setelah menjelaskan bahwa ia mengkonsumsi minuman yang dicampur dengan narkoba tanpa sepengetahuannya. Insiden ini tidak diumumkan kepada masyarakat karena penyelenggara turnamen tenis pria, ATP, selalu melindungi olahragawan yang dinyatakan tidak bersalah. Pernyataan berbohong, ditambah dengan kenyataan bahwa dia tidak pernah dihukum, ini pada dasarnya menunjukkan bahwa ATP mempercayai pembelaan diri Agassi dan merahasiakan kasus itu. ATP menyangkal keras tuduhan ini dengan mengatakan pengadilan independen lah yang mengambil keputusan itu dan badan itu tidak memiliki otoritas untuk mengambil keputusan atas masalah tersebut. Namun sayangnya, setelah muncul pengakuan ini kecurigaan mengenai penggunaan obat terlarang di dunia tenis semakin meningkat. Seberapa banyak kasus seperti ini sebenarnya? Siapa lagi yang berbohong? Berapa banyak petenis yang seperti Agassi mempergunakan alasan tidak benar dan berhasil menipu penyelidik?
Masalahnya adalah pada tahun 1997, hingga baru-baru ini saja, seluruh badan tenis dunia melakukan tes doping sendiri. Contohnya ATP, penyelenggara tur turnamen tenis kelompok pria, yang setengah dimiliki oleh para pemain dan setengah lagi oleh
turnamen yang masuk dalam tur. Ini bukan menuduh ada perilaku menutupi yang rutin terjadi tetapi jelas ada konflik kepentingan dalam sistem lama itu. Pada dasarnya Agassi diadili oleh pihak-pihak yang memerlukannya: tur tenis, promotor pertandingan. Tidak mengherankan jika terjadi perubahan pada tahun 2006 saat ATP, dan kemudian WTA tahun 2007, menyerahkan program tes doping ke badan yang secara relatif independen, Federasi Tenis Internasional, ITF. Program tes yang sekarang dilakukan sangat keras, ilmiah dan rinci karena para pemain dites dalam frekuensi yang lebih banyak saat mengikuti kompetisi dan di luar kompetisi. Namun masalahnya bukan soal tes doping, tetapi apa yang terjadi jika seseorang positif mempergunakan obat terlarang. Kasus Richard Gasquet mewarnai dunia tenis pertengahan tahun 2009 ini. Setelah dites positif mempergunakan kokain, satu pengadilan mempercayai penjelasan petenis Perancis ini bahwa obat terlarang itu masuk ke darahnya setelah dia berciuman dengan seorang pelayan bar di Miami. Dia mendapat hukuman larangan bertanding dua bulan yang pada intinya memperbolehkan petenis ini langsung bermain tenis lagi. Apakah kita akan tahu jawaban sebenarnya dalam autobiografi Gasquet 10 tahun lagi bahwa ini adalah penjelasan yang asal-asalan? Belum lagi masalah sebenarnya dibalik "The Nandrolone Seven". Tahun 2003, tujuh pemain dinyatakan positif mempergunakan steroid terlarang itu. Identitas mereka tidak pernah diungkap karena, seperti Agassi, semua dinyatakan tidak bersalah. Kasus itu tidak pernah terungkap secara penuh dan tidak banyak orang percaya dengan penjelasan resmi (karena zat mineral tambahan yang terkontaminasi) namun karena tidak ada alasan lain yang bisa dibuktikan secara legal, para pemain itu harus dinyatakan tidak bersalah karena pengacara mereka dengan cerdik menyalahkan ATP yang bertanggungjawab atas mineral tambahan itu. Tetapi siapa mereka? Setidaknya satu pemain diyakini sebagai petenis terkenal. Apakah cerita versinya akan diungkap satu hari nanti? Tentu saja mereka yang terlibat dalam kasus Agassi tahun 1997 itu tidak mengetahui rahasia kebohongannya. Mereka membebaskannya karena percaya dengan cerita yang diajukan - namun mereka diperdaya oleh seorang superstar. Tentu saja pembicaraan selanjutnya akan berpusat pada pertanyaan apakah crystal meth bisa menjadi zat peningkat prestasi. Tapi sebenarnya bukan itu masalahnya. Kuncinya di sini adalah penipuan dan dualisme yang berbahaya dalam cabang olahraga seperti tenis yang di satu pihak ingin
membela bintang mereka, tetapi dilain pihak terpukul oleh pengungkapan kebohongan salah satu juara sejati. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||