|
Nova/Lilyana hanya dapat perak
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Pasangan ganda campuran Indonesia, Nova Widianto/Lilyana Natsir gagal merebut medali emas kedua untuk Indonesia di Beijing.
Di final hari Minggu, Nova/Lilyana dikalahkan oleh pasangan Korea Selatan, Lee Hyojung- Lee Yongdae dalam dua set 11-21, 17-21. Sementara itu di perebutan medali perunggu, pasangan Indonesia lainnya, Flandy Limpele/Vita Marrisa juga kalah, dari pasangan
Cina, He Hanbin/Yu Yang Di hari terakhir pertandingan bulu tangkis semalam di Beijing University, Cina merebut medali emas ketiga ketika di tunggal putra Lin Dan unggulan pertama mengalahkan pemain Malaysia, Lee Chong-wei, 21-12, 21-8. Sebelumnya Cina sudah merebut medali emas lewat tunggal putri (Zhang Ning) dan Du Jing /Yu Yang. Indonesia mendapatkan satu medali emas lewat ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan, dan juga satu medali perunggu lewat Maria Kristin Yulianti di tunggal putri. Nova mengaku kalah Kepada BBC semalam, Nova Widianto merasa tidak terlalu kecewa dengan kekalahan mereka dan mengakui bahwa lawan mereka pasangan Korea Selatan memang lebih kuat. "Kami kalah power melawan mereka, dan tertinggal terlalu jauh di set pertama. Di set kedua, kami mulai menemukan permainan namun perbedaan kami sudah terlalu jauh," kata Nova Widianto. Walau menjadi juara dunia tahun lalu di Kuala Lumpur, ini merupakan medali pertama bagi Nova Widianto. Sementara itu manajer tim bulutangkis Indonesia, Lius Pongoh mengatakan dia tidak terlalu kecewa Indonesia tidak mendapatkan medali emas di hari terakhir. "Kita memang memperhitungkan bahwa peluang kita untuk mendapatkan medali emas ada di nomor ganda putra dan ganda campuran. Namun Nova/Lilyana sudah tampil maksimal di final tadi. Mereka memang kalah dari pasangan Korea Selatan yang memang lebih muda." kata Pongoh. Bagi Lius dan tim Indonesia lainnya, hasil mengejutkan adalah medali perunggu yang didapat Maria Kristin di tunggal putri. "Hasil medali perunggu itu menurut saya nilainya hampir sama dengan medali emas. Di tunggal putri kita tidak mengharapkan medali karena begitu kuatnya dominasi Cina." kata Lius lagi. Pertandingan terakhir tunggal putra antara Lin Dan melawan Lee Chongwei dari Malaysia tidak berlangsung sengit seperti diduga akan terjadi. Setelah pertandingan berakhir, Lin Dan memeluk pelatihnya Li Yongbo. Dia kemudian melepas sepatunya dan melemparnya ke arah penonton. Ini merupakan medali emas pertama bagi Lin Dan di Olimpiade. Empat tahun lalu di Athena, dia ditaklukkan oleh pemain Singapura, Ronald Susilo di babak pertama. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||