http://www.bbc.com/indonesian/

10 September, 2007 - Published 13:06 GMT

Sekolah sepakbola untuk remaja pendatang

Di ibukota Australia, Sydney, didirikan sebuah sepakbola untuk untuk membantu pengungsi remaja beradaptasi dengan lingkungan baru mereka.

Sekolah ini merupakan proyek bersama antara pemerintah dengan para pegiat yang ingin membantu para remaja mengatasi trauma mereka di kampung halamannya dulu.

Kebanyakan para pengungsi yang bergabung dalam sekolah sepakbola asuhan Mohamed Baaruud ini pernah merasakan pahitnya kehidupan, baik itu berupa kematian anggota, pembunuhan, atau terpaksa mengungsi dari rumah mereka.

Mohamed sendiri harus lari dari ancaman pembunuhan di Somalia dan tiba di Australia setelah sempat hidup di Amerika.

Ia sekarang bekerja untuk satu badan pemerintah yang membantu korban penyiksaan dalam mengatasi trauma mereka.

Sekolah sepakbola yang diasuhnya berisi anak remaja dari seluruh dunia, dari Afrika hingga Timur Tengah.

Selain memberi kesempatan yang lebih luas bagi anak didiknya untuk melanjutkan karir sepakbola, sekolahnya juga menjadi ungkapan dari salah satu sisi hidup mereka.

"Ini seperti memperlihatkan pada dunia dan masyarakat Australia mengenai salah satu sisi hidup kami, tetapi pada saat bersamaan juga memperlihatkan bahwa kami ini remaja normal pada umumnya," kata Baaruud.

"Apalagi mereka yang datang dari Afrika itu kuat, cepat belajar, dan berpotensi untuk tampil mewakili negeri ini di masa depan. Mereka juga cukup bagus untuk masuk ke klub-klub besar Eropa seperti Manchester, Barcelona, Arsenal, atau yang lainnya," tambahnya.

Jadi Baaruud yakin dengan masa depan para pengungsi remaja itu yang punya peluang di masa depan sebagai orang yang penting bagi Australia.

Menuju kehidupan normal

 Kami bersyukur bisa ke Australia. Sepakbola memberi saya kesempatan untuk hidup normal dan menikmati hidup, maupun mengajarkan ketrampilan baru
 
Vassay

Pemerintah Australia sedang memperbesar jumlah penerimaan imigrannya asal Afrika.

Tahun lalu mereka menerima 7.000 orang asal Afrika, atau separuh dari total penerimaan tahunan mereka.

Salah satunya adalah Vassay Kamara yang berusia 17 tahun, yang keluarganya dibunuh oleh kelompok bersenjata.

"Saya tinggal bersama bapak dan ibu tiri saya, karena ibu dan nenek saya dibunuh. Bapak saya sempat melarikan diri ke Gini dan 10 tahun kami tinggal di kem pengungsi," kenangnya.

"Kami bersyukur bisa ke Australia. Sepakbola memberi saya kesempatan untuk hidup normal dan menikmati hidup, maupun mengajarkan ketrampilan baru," kata Vassay.

Sepakbola memang merupakan pemersatu bagi anak-anak pengungsi, untuk membantu mereka dalam melupakan kerasnya hidup di pengungsian dan belajar mapan di Australia.

Sebagai pemersatu
Sepakbola
Sepakbola bisa menjadi pemersatu di seluruh dunia

Membantu anak-anak yang pernah mengalami tindak kekerasan yang mengerikan jelas memerlukan kesabaran dan pengertian.

Jasmina Bajrakteravic Heywood, seorang pekerja badan bimbingan dan penyuluhan pengungsi, tiba di Australia 14 tahun lalu dari Bosnia.

Ia yakin gelombang pengungsi baru ini akan bisa bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah Australia.

"Dengan dukungan yang cukup saya kira anak-anak muda ini akan bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi negara baru mereka. Bisa dalam bidang sepakbola tetapi juga dibidang-bidang lain," kata Jasmina.

Beradaptasi dengan gaya hidup baru jelas mempunyai masalah tersendiri.

Ada persoalan rasisme, bahasa, atau bahkan kadang kebiasaan sehari-hari yang sederhana yang berbeda dengan keseharian mereka sebelumnya.

Namun sepakbola, kata Branco Cullina, pelatih sepakbola klub utama Australia, Sydney FC, adalah pemersatu yang cukup ampuh. Brancu Cullina sendiri adalah warga kelahiran Kroasia.

"Lewat olahraga, apakah itu sepakbola ataupun yang lain, setiap orang bisa bersatu. Olahraga mampu menciptakan kesatuan yang hanya bisa dimimpikan oleh politisi ataupun politik," tuturnya.

Dan dinegara yang gila olahraga seperti Australia, tampaknya bidang satu ini memang memberikan kesempatan untuk mewujudkan mimpi kebersamaan dan persatuan.