|
Belajar dari kekalahan Taufik | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Kemenangan itu misteri, kita tidak tahu datangnya dari mana. Demikian kata mantan pelatih Indonesia Tong Sinfu di tahun 1994 ketika Indonesia menjadi juara Piala Uber. Malamnya di Istora Senayan, Jakarta, Mia Audina berhasil memastikan kemenangan 5-4 atas China setelah mengalahkan Zhang Ning. Mengapa kemenangan Mia Audina itu misteri? Di atas kertas Zhang Ning lebih bagus dibandingkan Mia. Namun dengan dukungan penonton, Mia akhirnya menang dan membuat Indonesia merebut Piala Uber yang kedua, setelah sebelumnya menang di tahun 1975. Sejak itu, Indonesia tidak pernah lagi mampu merebut Piala Uber, yang terus berada di tangan Cina. Sekarang dua piala lainnya dalam bulutangkis -- Piala Thomas dan Piala Sudirman -- juga ditangan Cina. Kata-kata itu teringat kembali setelah kekalahan Taufik Hidayat dari pemain India Anup Sridhar di babak kedua Kejuaraan Dunia bulutangkis di Malaysia hari Rabu. Kata-katanya mestinya menjadi "Kekalahan itu misteri, kita tidak tahu datangnya dari mana". Taufik kalah 14-21 26-24 22-20 dan menjadi pemain unggulan pertama di tunggal putra yang kalah di Kuala Lumpur. Tak diduga Kekalahan ini bisa disebut tidak terduga karena banyak pengamat sudah memperkirakan pertandingan yang seru baru bakal terjadi antara Taufik dengan ungulan pertama Lin Dan dari Cina di babak perempat final.
Kalau itu terjadi, malah peluang Taufik cukup besar untuk menang karena keduanya sudah sering bertemu. Namun melawan Anup Sridhar, lawan yang sudah dua kali dikalahkan oleh Taufik sebelumnya, bintang Indonesia ini kalah dari sisi teknik maupun fisik. Taufik tidak bermain jelek. Namun Anup Sridhar bermain lebih bagus lagi. Pukulan-pukulannya terutama permainan netnya sama rapinya dengan pemain elit dunia lainnya. Jadi ini bukan kemenangan kebetulan karena Taufik tidak tampil baik ataupun mengalami cedera. Memang ada berita bahwa Taufik dalam persiapan ke Kuala Lumpur "terganggu" karena istrinya baru saja melahirkan anak perempuan pertama mereka. Namun menurut beberapa wartawan Indonesia yang sering meliput bulutangkis, persiapan Taufik menghadapi kejuaraan apapun selalu mengalami "gangguan". Mungkin benar apa yang dikatakan oleh pelatih tunggal putra Hendrawan, masalah bagi Taufik bukanlah kemampuan fisik ataupun teknik. Keduanya sudah dimiliki oleh pemain kelahiran Pandeglang, Jawa Barat ini namun konsentrasi ke permainan dan tekad yang kadang hilang. Ambisi Olimpiade Dalam konteks bulu tangkis dunia yang menarik adalah bahwa kekalahan Taufik ini terjadi ketika menghadapi pemain asal India, bukan dari kekuatan bulutangkis mapan seperti Denmark, China atau Malaysia.
Ini yang harus disebut mengkhawatirkan bagi kubu bulutangkis Indonesia khususnya menjelang Olimpiade Beijing tahun depan. Taufik Hidayat menjadi juara dunia di tahun 2005, menyusul gelar juara Olimpiade yang didapatnya di tahun 2004. Ia menjadi satu-satunya pemain yang menyandingkan gelar juara Olimpiade dan juara dunia dalam waktu bersamaan di tunggal putra. Akankah Taufik bisa mempertahankan gelar tersebut di Beijing tahun depan? Melihat kegigihan China untuk meraih lima emas tahun depan, kekalahan Taufik mestinya mengkhawatirkan. China menurunkan empat pemain di kejuaraan ini -- unggulan pertama Lin Dan, Bao Chunlai, Chen Jin dan Chen Jin. Semuanya diunggulkan dalam delapan besar. Malaysia berharap untuk bisa merayakan hari kemerdekaan ke-50 pada tanggal 31 Agustus mendatang dengan merebut gelar juara dunia. Tumpuan harapan diletakkan di pundak unggulan kedua Lee Chong-wei. Denmark masih mengharapkan Peter Gade, yang merupakan unggulan kelima, dan Kenneth Jonassen unggulan ketujuh untuk berprestasi baik di kejuaraan ini. Termasuk Taufik Hidayat, salah satu dari tujuh nama tadi kemungkinan besar yang akan menjadi juara di Beijing. Pertanyaan besar bagi Taufik Hidayat adalah apakah kekalahan di Malaysia akan memberinya motivasi besar untuk berbenah dan bersiap maksimal ke Beijing tahun depan. | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||