![]() |
|
![]() Kemiskinan Ahmad Sanusi dan Muhamad Fadlan Rifky, dua remaja sebaya yang tinggal di ibu kota Jakarta. Namun dunia mereka begitu berbeda.
Rifky yang biasa dipanggil Vicky, tinggal di sebuah rumah di daerah Bintaro bersama kedua orangtuanya yang keduanya adalah pengusaha. Sementara Sanusi tinggal di kolong jembatan tol Pluit bersama dengan ayahnya, sebagai tukang sampah dan ibunya buruh cuci gosok.
Sanusi sendiri setiap harinya harus memulung sampah untuk membantu orangtuanya, dengan menggunakan gerobak di daerah Pluit, Jakarta Utara, bersama temannya, Bahir. Dengarkan cerita Sanusi dan Vicky
Mereka bekerja dari pagi pada hari Minggu dan malam hari pada hari biasa, untuk membantu orangtua mereka menyambung hidup. "Ribuan gubuk di sepanjang kolong tol ini dan di seputar tempat tinggal saya ini, sampah dimana mana, sungai kecil juga penuh dengan sampah dan airnya hijau," kata Sanusi. Sanusi bersekolah di Mutiara Hati, satu lembaga yang didirikan untuk membantu pendidikan anak-anak tidak mampu. Meski sudah berusia 17 tahun, Sanusi masih duduk di kelas 2 SMP. "Saya terlambat masuk sekolah, karena tidak ada dana."
Sekolah Mutiara Hati terdiri dari 4 kelas, dua kelas untuk kelas 2 SMP, satu kelas untuk SD dan satu kelas untuk TK. Mereka yang duduk di SD juga ada yang berusia 16 tahun, karena terlambat dalam mulai sekolah. Kedua remaja 17 tahun ini dipertemukan agar dapat saling bertukar pengalaman, mendalami dunia mereka yang berbeda dan membicarakan bagaimana mereka mengatasi tantangan kemiskinan. Vicky mengunjungi tempat Sanusi tinggal dan memulung sampah yang biasanya dia lakukan selepas maghrib sampai malam. Sebagai gantinya, Sanusi juga melihat daerah tempat tinggal Vicky dan keluarganya di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan. "Rumah Vicky luas banget. Kamarnya sendiri-sendiri. Beda banget dengan saya. Rumah saya, hanya ada satu ruang kecil berdinding dan beralas tripleks untuk kami berempat, orang tua saya, adik dan saya sendiri," kata Sanusi. "Setelah lihat keadaan Vicky, saya ingin sekali maju." "Ingin hidup enak seperti Vicky. Tapi saya tidak tahu apa bisa saya hidup enak," tambah Sanusi dengan terus terang. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ^^ Kembali ke atas | |||