BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 18 Maret, 2009 - Published 17:43 GMT
 
Email kepada teman   Versi cetak
Mencari alternatif dari beras
 

 
 
Kebun jagung
Makanan pokok dari jagung harus dimodifikasi agar 'bergengsi'
Departemen Pertanian mengatakan indonesia menjadi pengkonsumsi beras terbesar di dunia dengan rata-rata kebutuhan per tahun mencapai 33 juta ton.

Sekjen Himpunan Karya Tani, HKTI, Rahmat Pambudi mengatakan penyebabnya adalah perubahan pola konsumsi bahan pokok dari non beras ke beras.

"Ini semua karena program swasembada pangan pemerintah orde baru yang membuat harga beras sangat murah dan orang tidak mau makan jagung, sagu dan umbi," ujar Rahmat Pambudi.

Rahmat menambahkan perubahan perilaku itu juga disebabkan: "Ada perasaan kalau makan nas lebih bergengsi."

Dan kebutuhan ini seringkali tidak bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri sehingga Indonesia harus mengimpor beras.

Pakar agronomi IPB Rudi Purwanto mengatakan harus ada langkah untuk mengurangi konsumsi beras dan rencananya tahun 2030 turun dari 136 kg per kapita per tahun menjadi 90 kg per kapita per tahun.

"Dan itu diganti dengan produk hewan, buah, susu dan karbohidrat tidak hanya dari beras," kata Rudi.

Singkon beracun ini dijadikan bahan pangan pokok yang sehat

Menteri Pertanian pemerintah sejak 30 tahun lalu telah memperkenalkan program diversifikasi pangan dan sekarang pun program itu masih berjalan.

Hanya, menurut Rudi Purwanto, masalahnya adalah masyarakat yang dulu makan jagung dan kemudian berubah makan beras secara psikologis sulit diubah.

"Ini karena ada perasaan jagung lebih rendah dari beras. Sehingga yang perlu dilakukan adalah mengembangkan jagung, ubi, sagu menjadi produk olahan yang segengsi belahan," tandas Rudi.

Turun temurun

Namun di desa Cirendeu, Jawa Barat, warganya memiliki prinsip berbeda dengan kebanyakan warga di Indonesia.

Penduduk desa ini sejak tahun 1918 memutuskan untuk mengkonsumsi ubi jalar sebagai pengganti beras.

Sesepuh desa ini, Asep Wardana, mengatakan keputusan itu diambil oleh para orangtua di desa itu yang khawatir akan ada pengurangan lahan ataupun air untuk sawah sehingga mereka memutuskan untuk tidak bergantung pada beras.

"Tahun 1918 mencoba mengkonsumsi singkong untuk warga desa, berhasil. Dan pada tahun 1924 hingga sekarang masyarakat di sini hanya mengkonsumsi makanan pokok dari singkong ini," ujar Asep Wardana.

"Yang berbeda hanya rasa. Kadar karbohidrat, protein atau apapun sama juga dengan beras," tambahnya.

 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman   Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy