BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 17 Maret, 2009 - Published 13:20 GMT
 
Email kepada teman   Versi cetak
Distribusi pupuk dan bibit
 

 
 
Persawahan
Petani mengeluhkan kekurangan pupuk dan bibit buruk
Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, HKTI, mengatakan kesulitan mendapat pupuk merupakan masalah dalam mengupayakan ketahanan pengan di Indonesia.

Sekjen HKTI, Rachmat Pambudi, mengatakan meski anggaran pertanian sekarang lebih meningkat lebih dari tiga kali lipat dari tahun 2005.

"Subsidi pupuk hampir 15 kali lipat dari 2004, sekarang sudah diatas 15 trilyun, tapi petani masih kesulitan mendapatkan pupuk," ujar Rachmat Pambudi.

"Ini yang harus ditangani lebih dahulu kalau ingin melangkah ke arah pertanian yang menghasilkan ketahanan pangan yang baik."

Masalah kelangkaan pupuk ini, sangat dirasakan oleh para petani di lapangan. Apalagi kelangkaan pasokan pupuk pasti dibarengi melambungnya harga.

Ketua Kelompok Tani Desa Hegarmanah, Kabupaten Bekasi Entang Permana mengatakan kesulitan mencari pupuk di musim tanam tahun 2007 dan2008 dan terpaksa membeli di luar Kabupatennya.

"Harganya dua kali lipat dari harga dasar," ujar Entang Permana.

Kusnadi Daeng Lewa petani di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan mengatakan masalah kelangkaan pupuk ini selalu berulang setiap tahun, terutama di puncak masa tanam sekitar bulan November.

Para petani mengatakan masalah kekurangan pupuk ini disebabkan oleh distribusi pupuk bersubsidi yang tidak baik.

Namun Menteri Pertanian Anton Apriantono mengatakan masalah pupuk disebabkan oleh meningkatnya permintaan akibat peningkatan produksi dan juga kebiasaan petani mempergunakan pupuk berlebihan.

"Kami merekomendasi penggunaan urea 250 gram, tetapi petani bisa mempergunakan hingga 500 gram," kata Anton Apriantono.

Pemerintah menurut Anton Apriantono juga akan memperbaiki jalur distribusi pupuk sehingga diterima oleh para petani yang memang berhak.

"Ini akan disempurnakan, ini namanya sistem tertutup, " kata Anton Apriantono.

Bibit

Para petani juga mengeluh karena bibit langka dan mahal sehingga seringkali mereka enggan menggunakan bibit bantuan pemerintah karena seringkali hasilnya tidak sesuai dengan yang dijanjikan.

Para petani mengatakan bibit pemerintah menghasilkan produk lebih kecil dibandingkan bibit lain sehingga merugikan.

Menteri Pertanian membantah tuduhan kualitas bibit pemerintah buruk dan mengatakan justru petani yang sulit mengubah kebiasaan.

"Petani tidak mudah menerima benih baru, mereka pikir kalau bukan benih pilihan mereka jadi tidak cocok. Sementara program kita penanaman benih unggulan. Kalau ada laporan lebih mengenai kerusakan benih yang langsung diganti," Anton Apriantono.

Seri ini telah disiarkan Radio BBC Siaran Indonesia tanggal 16-20 Maret 2009.

 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman   Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy