|
Mengintip dapur transportasi
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Saya mendapatkan kesempatan yang langka ketika melakukan liputan keselamatan transportasi di Indonesia belum lama ini.
Tidak pernah terbayangkan saya bisa menerbangkan pesawat. Tapi tunggu dulu, yang saya maksud adalah menerbangkan Boeing 737 400 itu di ruang simulator, yang tarifnya amat mahal. Untuk satu kali training, dengan waktu 4 jam, diperlukan biaya US$ 4.000. Jadi kalau berlatih 1 jam di simulator, seharusnya saya harus merogoh kantung US$ 1.000, yang pasti merupakan pengeluaran terbesar saya selama ini. Tapi Kapten Sujatmiko dan Kapten Yulianto ingin menjelaskan kepada saya tentang bagaimana seorang pilot sebaiknya mempersiapkan penerbangan. Skenarionya adalah berangkat dari Balikpapan malam hari dan layar di depan kokpit langsung menjadi gelap. Seorang pilot memang diharuskan memiliki jarak pandang lebih dari 200 meter. Setelah mendapat petunjuk singkat tentang bagaimana cara menerbangkan pesawat, saya kemudian dibujuk untuk duduk ko pilot. Maka masuklah saya ke dalam simulator. Saya duduk di sebelah kanan dan ketika take off, pesawat terasa begerak dan --horeeee-- saya ternyata bisa tinggal landas. Selama di udara saya diperintahkan memonitor layar kecil persis di depan kemudi yang menunjukkan kemiringan pesawat. Beres urusan lepas landas, saya mendapat instruksi untuk mendarat. Baru saja menarik nafas lega saya sudah harus bekonsentrasi. Namun dijelaskan kalau pendaratan lebih mudah karena sistem di dalam pesawat memungkinkan pendaratan otomatis. Jadi, pada jarak tertentu, tinggal memencet tombol otomatis dan pesawat perlahan-lahan turun menuju bandara. Dan terasa ban pesawat menyentuh landasan dengan mulus. Latihan rutin
Saat duduk di ruang kemudi itulah, saya teringat dengan pilot pesawat Adam Air yang mengalami musibah awal tahun 2007, yang menelan 100 lebih korban jiwa. Saya membayangkan detik-detik terakhir kedua pilot saat berkonsentrasi dengan instrumen di depan saya sebelum pesawat membelok dan jatuh ke laut. Menurut Kapten Hamdan Hasan, yang menjadi instrukstur kilat saya, tombol-tombol di depan itu sebenarnya sudah dibuat sesederhana mungkin. Apalagi kalau menggunakan tombol otomatis, maka pesawat akan jalan sendiri untuk mengikuti rute yang sudah diprogram sebelumnya. Kalaupun ada kerusakan dalam instrumen atau mesin pesawat, pilot sudah mendapat pelatihan dengan prosedur standar yang harus ditempuh. Namun, tambah Kapten Hamdan Hasan, semua pilot baru bisa siaga kalau memang secara rutin berlatih. Maskapai Garuda Indonesia memberlakukan latihan 2 kali setahun bagi para pilotnya dan harus lulus atau mengulang. Suku cadang.
Dari ruang kemudi pesawat --tempat yang menjadi pusat dari keselamatan penumpang-- saya juga menyadari bahwa perawatan pesawat membutuhkan biaya tinggi. Saya diajak berkeliling untuk melihat bagaimana perawatan berkala mesin dan juga tubuh pesawat Biaya perawatan yang tinggi ini juga saya saksikan ketika berkunjung ke Balai Yasa di Jakarta dan Yogyakarta, yang merupakan bengkel kereta api. Di Jakarta untuk memelihara gerbong sedang di Yogyakarta untuk merawat lokomotif penarik gerbong. Dan Kepala Balai Yasa di Yogyakarta, Albert Tarra, menceritakan kepada saya tentang kesulitan suku cadang dalam perbaikan lokomotif. Kadang terjadi bahwa Balai Yasa sudah menjalankan semua prosedur tapi karena pengganti suku cadang belum tersedia --sementara pelayanan harus berjalan-- maka perbaikan bersifat temporer saja. Jadi lokomotif, tambahnya, mungkin hanya bisa bertahan tiga bulan saja sebelum mogok lagi. Pasrah saja?
Lain kereta lain bus. Dengan biaya oli dan ban yang mahal, pengusaha bus harus berupaya lebih keras untuk bisa bertahan. Dalam kunjungan ke Bengkel Raharja, mekaniknya mengatakan perbaikan pada akhirnya tergantung dari laporan supir. Artinya bukan berdasarkan pemeriksaan rutin. Seorang pakar transportasi di Yogyakarta mengatakan 36.000 orang meninggal karena kecelakaan lalu lintas jalan raya. Belum lagi kecelakaan angkutan laut, udara, maupun sungai. Kalau dihitung-hitung maka angka itu berarti dalam setiap setengah jam ada 1 orang yang meninggal akibat kecelakaan transportasi darat. Dan tingkat kecelakaan di Indonesia memang merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Kurangnya perhatian pada peraturan yang dikombinasi dengan usia kendaraan yang sudah tua merupakan faktor yang sering membawa resiko kecelakaan. Saya jadi sempat sedikit was-was, padahal perjalanan untuk mengumpulkan bahan masih panjang. Tapi akhirnya saya terpaksa memilih seperti kebanyakan pengguna jasa angkutan umum lainnya. Pasrah saja, kata yang satu. Tergantung yang di atas, tambah yang lainnya. |
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||