13 Februari, 2007 - Published 12:18 GMT
Anton Alifandi
Wartawan BBC Siaran Indonesia
Di tengah berbagai upaya untuk menciptakan sistem deteksi tsunami yang efektif, sebuah metode tradisional ternyata terbukti berhasil menyelamatkan ribuan warga sebuah pulau di Indonesia dari tsunami 26 Desember 2004 lalu.
Dan apakah metode itu bisa menjadi pelajaran bagi daerah-daerah lain di Indonesia?
Sebagai bagian dari rangkaian laporan mengenai antisipasi bencana, saya berkunjung ke Pulau Simeulue, di lepas pesisir Pantai Sumatera, yang menggunakan metode peringatan tsunami tradisional.
Di sini, cerita tentang tsunami besar tahun 1907 masih melekat di ingatan Hairuman dan warga Pulau Simeulue pada umumnya.
Oleh karena itu ketika tsunami, yang disebut dalam Bahasa Simeulue, melanda lagi pada tahun 2004, Hairuman dan tetangganya tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan.
"Jadi kurang lebih jam 8.00 itu datang gempa, dari mulai tidak begitu deras kemudian terus sampai sekuat-kuatnya. Sehingga sekitar 30 menit berlalu, air laut surut sampai karang-karang di dalam air itu nampak," kata Hairuman.
Dan mereka kemudian mengenang apa yang dikatakan oleh nenek mereka yang dulu selamat dari serangan tsunami.
"Menurut cerita nenek yang dulu itu, berkaitan dengan tahun 1907, kalau air itu sudah surut berarti kita harus melarikan diri ke gunung karena air itu pasti naik," tambah Hairuman.
Korban jiwa amat kecil
Gempa bumi dan tsunami yang menghantam Pulau Simeulue pada tanggal 26 Desember 2004 itu menimbulkan kerugian harta benda yang amat berat.
Namun dari total penduduk 78.000 jiwa di Pulau Simeulue, hanya tujuh orang yang meninggal dunia, sementara di Aceh daratan sampai ratusan ribu orang tewas dihantam tsunami.
Jumlah korban yang relatif amat kecil itu, kata Bupati Simeulue, Haji Darmili, karena sejak kecil mereka sudah dianjurkan oleh para tetua mereka untuk waspada dengan keadaan lingkungan mereka.
"Mereka mengajarkan supaya tidak terlalu takut, seolah-olah bencana itu merupakan suatu hal yang biasa. Jadi mereka punya pantun 'tak usah takut anak cucuku, tsunami itu mandi-mandimu dan gempa itu ayun-ayunanmu," kenang Haji Darmili.
Ada lagi pantun yang mengibaratkan kilat sebagai lampu penerangan dan petir itu merupakan gendang.
"Kita diajarkan untuk memahami keadaan alam di Simeulue, karena daerah ini dari dulu sudah sering dilanda bencana," tambahnya.
Menyebar kearifan
Usai bertemu bupati Haji Darmili, saya kemudian berkunjung ke sebuah sekolah untuk melihat apakah memang pengetahuan yang dimaksud oleh para tetua Simeulue itu juga terwariskan mereka.
Para murid di SDN 07 di Teupah Barat tahu bahwa jika ada gempa, maka mereka menunggu lebih dulu untuk melihat air surut dan setelah memutuskan lari ke gunung untuk menghindar dari tsunami.
Murid di SDN 07 masih belajar di tenda dan bangunan sementara karena pulau ini juga dilanda gempa besar pada tahun 2005.
Selain kearifan lokal yang diwariskan dari beberapa generasi, topografi Simeulue juga memungkinan penduduk untuk menyelamatkan penduduk dari tsunami.
Dr. Rahman Hidayat, anggota Tim Survey Internasional, secara khusus meneliti Pulau Simeulue setelah tsunami dan dua gempa melanda pulau ini dalam waktu dua tahun.
"Dari fakta di lapangan kita lihat memang hanya 200 hingga 300 meter dari garis pantai sudah perbukitan, sehingga sebagai jalur menghindari mereka lebih baik dibanding di Meulaboh, Calang, atau di Lhok Nga," kata Dr. Rahman Hidayat.
Dengan demikian maka waktu yang dibutuhkan para penduduk Pulau Simeulue untuk menyelamatkan diri relatif lebih pendek dari beberapa wilayah lainnya.
Bagaimanapun ada harapan agar kearifan tradisional di Simeulue bisa menyebar ke wilayah-wilayah lainnya.
"Kita harapkan kearifan Simeulue bisa disebarkan ke wilayah-wilayah Indonesia lain karena banyak wilayah di Indonesia yang rawan tsunami," tambahnya.