01 Februari, 2007 - Published 14:29 GMT
Anton Alifandi
Wartawan BBC Siaran Indonesia
Dari sebuah kamar di Dusun Deles, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, penyiar Radio Lintas Merapi menyapa para pendengarnya.
Isinya adalah keadaan cuaca di Lereng Gunung Merapi, yang diselipkan di antara berbagai mata acara mulai dari lagu pop Malaysia dan Indonesia, musik dangdut dan rekaman lawakan Bahasa Jawa mendiang Basiyo.
Dan sekitar 3 kilometer di bawah dusun Deles, para penambang sejak pagi hingga sore membanting tulang menggali pasir dan batu yang mengalir dari puncak Merapi ke Sungai Woro.
Informasi yang disiarkan di Radio Lintas Merapi diperoleh dari penduduk Deles yang pada saat hujan secara sukarela menyisir hulu sungai Woro untuk memantau permukaan air.
Kegiatan masyarakat ini hanyalah salah satu dari serangkaian kegiatan Kelompok Pasag Merapi yang mengajari warga untuk berlatih menghadapi kemungkinan bencana.
Membantu gempa
![]() | |
| Belum semua rumah korban gempa Yogyakarta dibangun kembali |
Menurut Sukiman, Koordinator Pasag Merapi, tingginya kesadaran penduduk Deles untuk siaga bencana bisa dilihat dari kenyataan bahwa kelompok ini sudah berdiri sejak tahun 1995, dengan melibatkan sekitar 500 warga.
Mereka mendapat dukungan Eko Teguh Paripurno, seorang dosen Geologi dan Koordinator Pusat Studi Manajemen Bencana di UPN Veteran Yogyakarta.
Dan komunitas–komunitas semacam ini sebenarnya sudah terbentuk di berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Selain bergerak di daerah sendiri, tahun lalu Sukiman dan kawan-kawan menjadi relawan bagi korban gempa di Klaten dengan menyumbang 379 rumah bambu bagi penduduk di kecamatan-kecamatan yang diguncang gempa.
Dan di daerah Klaten, yang dilanda gempa Mei lalu, beberapa orang tukang giat bekerja membangun kembali rumah Pak Saliman.
Desa tempat tinggalnya, Jabung, Kecamatan Gantiwarno, termasuk desa yang paling parah terkena.
Pak Saliman memutuskan untuk membangun kembali rumahnya dengan uang pinjaman karena musim hujan akan segera tiba.
Bantuan keuangan pemerintah baru dia terima Desember lalu sebesar Rp. 4,4 juta dari Rp. 15 juta yang dijanjikan.
Desa Jabung kehilangan 40 warganya akibat gempa Mei lalu, sedangkan 99% rumah penduduk rusak atau hancur.
Belum semua mengalir
![]() | |
| Pemerintah perlu lebih cepat dalam menangani bencana |
Kepala Desa Jabung, Bagas Subarno, menjelaskan hanya warga yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil ataupun anggota TNI/Polri yang rumahnya sudah selesai 100%.
Sedangkan bangunan-bangunan umum dibangun oleh lembaga swasta maupun lembaga-lembaga bantuan asing.
Bagaimanapun Bagas Subarno mengaku sudah berusaha keras agar desanya lebih cepat mendapat bantuan.
Tak jauh dari Jabung, di desa Tajungan, Kecamatan Wedi, suara delman sesekali masih terdengar di tengah-tengah suara kendaraan bermotor. Dan keadaan di sini tidak terlalu berbeda dengan di Jabung.
Salah seorang warga, Pak Jiman, mengatakan sudah menerima dana bantuan dari pemerintah.
Dia sudah menghabiskan uang Rp. 4,7 juta untuk membeli bahan bangunan, sedangkan dana yang sudah dia terima Rp. 4,4 juta.
Kesulitan serupa dialami Sugini yang sampai sekarang masih tinggal di rumah sementara yang terbuat dari bamboo. Inilah pendapatnya tentang pembagian dana pemerintah sejauh ini.
Kelambanan pemerintah dalam membantu masyarakat diakui oleh Ketua DPC Golkar dan Wakil Ketua DPRD Klaten, Anang Widayaka.
Sekarang Anang berpendapat pemerintah Kabupaten Klaten harus mempunyai data yang akurat agar bisa mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.
Hal lain yang menurut Anang Widayaka harus berubah adalah cara kerja birokrasi dalam menghadapi bencana.
Selain perubahan cara kerja, DPRD Klaten juga belajar dari letusan Merapi Bulan April lalu dan gempa bumi sebulan sesudahnya.
Pelajaran yang diambil adalah meningkatkan dana penanganan bencana dari Rp. 800 juta menjadi Rp. 3 milyar, plus dana cadangan sebesar Rp. 10 milyar.