|
Penyandang cacat Indonesia | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
BBC Siaran Indonesia menyajikan seri khusus tentang kehidupan penyandang cacat di Indonesia yang masih terpinggirkan dan terabaikan hak-haknya. Selain kebijakan negara yang kurang melindungi hak mereka, di masyarakat juga masih melekat berbagai stigma seperti penyandang cacat adalah beban, orang yang tidak berguna dan tergantung pada orang lain. Produser BBC Siaran Indonesia, Dian Setianto berkunjung ke tiga provinsi yaitu DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sumatra Barat. Dian bertemu antara lain dengan penyandang cacat, keluarga mereka, pendidik, warga dan pejabat pemerintah untuk mengangkat masalah-masalah yang dihadapi penyandang cacat di Indonesia. Pembahasan yang dibicarakan termasuk persepsi diri dan keluarga, perlakuan masyarakat, persamaan hak, kesempatan mendapat pendidikan dan pekerjaan serta prestasi dan kemandirian. Ikuti seri khusus BBC Siaran Indonesia ini setiap pagi dari Senin 19 Juli sampai Sabtu 24 Juli pada siaran pukul 0500 WIB. Kirimkan komentar anda tentang masalah yang dihadapi penyandang cacat di Indonesia ke email indonesian@bbc.co.uk atau melalui formulir di sisi kanan halaman ini. Bagian satu: Senin 19 Juli 2004 Awal dari seri ini akan melihat bagaimana seseorang melihat kecacatan yang disandangnya. Ada yang menganggap kecacatan sebagai nasib yang harus diterima. Tetapi ada juga yang melihat diri mereka sempurna karena kecacatan hanyalah salah satu instrumen kehidupan. Seri ini juga akan melihat perlakuan keluarga. Apakah kondisi cacat dilihat sebagai aib yang memalukan, cobaan, hukuman Tuhan atau beban? Bagian dua: Selasa 20 Juli 2004 Begitu penyandang cacat meninggalkan “kenyamanan” rumah, mereka berhadapan langsung dengan lingkungannya. Bagaimana masyarakat menilai penyandang cacat? Apakah orang pada umumnya bersedia mengikutsertakan penyandang ketunaan dalam kehidupan bermasyarakat? Persepsi ini menentukan bagaimana masyarakat memperlakukan penyandang cacat. Bagi sebagian orang mungkin lebih mudah menerima penyandang cacat fisik daripada mereka yang cacat mental. Apakah persepsi dipengaruhi oleh penggambaran di media massa. Misalnya acara komedi yang menampilkan orang tuna rungu yang kesulitan berbicara. Pantaskah mentertawakan kecacatan? Bagian tiga: Rabu 21 Juli 2004 Apakah hukum berpihak pada penyandang cacat? Di satu sisi kebijakan pemerintah ternyata kurang melindungi hak mereka. Sementara di masyarakat juga masih kental anggapan bahwa orang cacat tidak berguna dan memerlukan bantuan orang lain. Malah satu contoh adalah minimnya penyediaan fasilitas yang memadai di tempat umum, yang merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap warga. Lemahnya undang-undang yang ada juga menyebabkan hak penyandang cacat untuk mendapat pekerjaan tidak dilindungi. Diskriminasi di pekerjaan masih banyak dialami oleh penyandang cacat. Bagian empat: Kamis 22 Juli 2004 Konvensi hak anak yang diratifikasi Indonesia sejak tahun 1990-an menyatakan bahwa pendidikan adalah hak setiap anak. Kenyataannya data dari Direktorat Pendidikan Luar Biasa, Depdiknas, meyatakan baru sekitar 48.000 dari 1,3 juta anak penyandang cacat usia sekolah di Indonesia yang dapat menikmati bangku pendidikan. Masalah ini disebabkan antara lain akibat kurangnya kesadaran dari orang tua akan pentingnya pendidikan bagi anak penyandang cacat dan rendahnya sosialisasi pendidikan luar biasa oleh pemerintah. Salah satu jalan keluarga mungkin adalah pendidikan inklusi yang membaurkan siswa luar biasa dengan siswa biasa di sekolah reguler. Kemudian apa pilihan bagi mereka yang ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi? Maukah perguruan tinggi menerima anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus ini? Bagian lima: Jumat 23 Juli 2004 Kecacatan tidak menghentikan seseorang untuk menjadi orang berguna yang memberikan sumbangan kepada masyarakat, sama seperti penduduk non-cacat yang dianggap "normal". Lihat apa yang dilakukan Setia Adi Purwanta, penyandang tuna netra yang giat di lembaga swadaya masyarakat Dria Manunggal, yang melakukan penelitian dan pengembangan bagi orang-orang berkemampuan berbeda ini. Keinginan untuk menjalani hidup mandiri dan tidak tergantung pada orang lain menjadi dorongan banyak penyandang cacat. Salah satu cerita adalah Monica Linda, juga penyandang tuna netra terjun ke pekerjaan sosial untuk membantu para penyandang cacat lainnya. Lalu bagaimana dengan mereka yang gagal mencapai prestasi? Bagian enam: Sabtu 24 Juli 2004 Seberapa jauh perlindungan dan persamaan hak bagi penyandang cacat di Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain? Sebagai contoh, Inggris yang tergolong sebagai negara makmur baru sejak tahun 1995 melarang diskriminasi terhadap orang cacat. Salah satu pendorong adalah banyaknya jumlah kasus tuntutan pengadilan terhadap pemerintah atau perusahaan seputar perlakuan tidak adil yang diterima penyandang cacat. Dalam hal aksesibilitas, hanya sekitar 15 persen bis umum di Inggris yang memiliki fasilitas bagi kursi roda. Tapi dalam hal lain, kesempatan bagi orang cacat untuk memberikan kontribusi ke masyakarat lebih besar. Televisi di Inggris juga diwajibkan memunculkan lebih banyak penyandang cacat dalam program-program mereka. Bisakah Indonesia berjalan ke arah ini? |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||