|
Obama: evaluasi informasi intel
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Presiden Barack Obama memerintahkan evaluasi informasi intelijen berkaitan dengan Mayor Nidal Malik Hasan yang menembak mati
13 rekannya.
Perintah ini datang setelah para petinggi intelijen Amerika Serikat mengungkapkan bahwa mereka mengetahui Mayor Nidal Malik Hasan memiliki sebuah hubungan dengan para ulama yang diduga bersimpati pada Al-Qaeda. Pada 5 November lalu, di Pusat Persiapan Prajurit, Fort Hood, Texas, Mayor Nidal Hasan melakukan penembakan. Karena lokasi ini merupakan tempat berkumpulnya para prajurit melakukan tes kesehatan sebelum dikirim ke luar negeri, maka saat penembakan banyak korban berjatuhan. Akibatnya, 13 orang tewas dan 29 orang lainnya terluka. Polisi terpaksa menembak Mayor Hasan untuk menghentikan aksinya itu. Sejauh ini, Mayor Hasan belum bersedia berbicara kepada para penyidik. Namun, banyak yang menduga aksi ini dilakukan karena Hasan tidak ingin ditugaskan ke Afghanistan. Saat ini Mayor Hasan masih berada dalam perawatan di rumah sakit dengan penjagaan sangat ketat. Dia dipastikan akan menjalani proses pengadilan militer dan jika dia terbukti melakukan pembunuhan maka Mayor Hasan terancam hukuman mati. Wartawan BBC Matthew Price mengatakan jika Mayor Hasan dijatuhi hukuman mati, maka dia adalh personil militer pertama yang dihukum mati berdasarkan undang-undang militer AS selama 50 tahun terakhir. Kekhawatiran anti-Muslim
Media lokal menyebutkan selama beberapa tahun belakangan ini sikap dan performa kerja Mayor Hasan banyak mengundang keprihatinan rekan-rekannya. Sebuah tim penyidik yang dipimpin FBI berhasil memantau e-mail seorang ulama asal Yaman Anwar al-Awlaki yang mengatakan pernah berkomunikasi dengan Mayor Hasan sebanyak 10 hingga 20 kali. Namun, FBI memutuskan untuk tidak memperdalam penyidikan soal hubungan antara kedua orang ini karena pesan email antara keduanya dinilai tidak berisikan ancaman tertentu. "Saya memerintahkan untuk memeriksa kembali seluruh berkas-berkas intelijen hingga tanggal 6 November 2009 yang berkaitan dengan penembakan di Fort hood, Texas terutama yang berkaitan langsung dengan tersangka penembak Mayor Nidal Malik Hasan," kata Presiden Obama. "Selain itu, saya memerintahkan sebuah evaluasi untuk memastikan bagaimana cara penanganan, pembagian dan tindak lanjut dari sumber-sumber intelijen antar departemen." "Namun, inventarisasi dan evaluasi ini harus dijalankan tanpa mengganggu proses investigasi kasus penembakan di Fort Hood," tandas Obama. Di tengah kekhawatiran adanya gerakan anti-Muslim usai tragedi penembakan itu, Presiden Obama menekankan bahwa personil angkatan bersenjata Amerika Serikat terdiri dari berbagai bangsa. "Meski berbeda ras, kepercayaan dan asalnya, mereka tetap bangsa Amerika. Mereka yang Kristen, Muslim, Hindu, Yahudi bahkan yang tak beragama tetap bangsa Amerika," tegas Obama. "Mereka adalah keturunan dari para imigran dan sebagian dari mereka memang imigran. Namun, perbedaan inilah yang membentuk Amerika sebagai sebuah bangsa," ujar Obama tak lama setelah penembakan itu terjadi. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||