|
Perjanjian iklim sulit dicapai?
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Para pejabat perubahan iklim mengatakan semakin sulit mencapai kesepakatan mengikat dalam pertemuan puncak di Kopenhagen,
bulan Desember.
Para delegasi dalam pertemuan perubahan iklim PBB di Barcelona mengatakan masih banyak yang harus dikerjakan terkait sasaran pengurangan emisi dan ganti rugi untuk negara-negara berkembang. Sepanjang minggu ini para delegasi membicarakan tentang prospek mencapai kesepakatan yang mengikat di Kopenhagen. Salah satu masalah kunci adalah upaya yang harus dilakukan dalam mencapai sejumlah hal penting seperti pengurangan emisi dan dana untuk membantu negara berkembang menghadapi perubahan iklim. Masalah lain adalah tidak adanya kemajuan dalam pembahasan rancangan undang-undang iklim di Amerika Serikat. Rancangan undang-undang tentang iklim kini tengah dibahas di Senat, Amerika namun diperkirakan RUU itu tidak akan diloloskan sebelum pertemuan di Kopenhagen. Para pejabat dalam pertemuan di Barcelona saat ini membicarakan tentang kemungkinan meraih perjanjian politik dalam pertemuan di Denmark yang mencakup pengurangan emisi, jadwal waktu dan soal pendanaan. Perjanjian ini juga mencakup kapan jadwal traktat yang mengikat dapat disepakati, kemungkinan dalam waktu enam bulan sampai satu tahun. Artur Runge Metzer, juru runding untuk Uni Eropa, mengatakan semua pihak melihat kenyataan politik, khususnya di Amerika Serikat dan karena itu semua pihak perlu lebih fleksibel. Namun banyak delegasi mengatakan penundaan itu karena tidak adanya keinginan politik. Agus Purnomo, kepala sekretariat Dewan Nasional Perubahan Iklim Indonesia, yang hadir dalam pertemuan di Barcelona mengatakan negara-negara maju sengaja mengulur waktu sampai pada hari-hari terakhir di Kopenhagen. Namun ia optimis, pertemuan di Kopenhagen akan menghasilkan kesepakatan karena masyarakat di negara-negara maju yang belum memenuhi janji pengurangan emisi, diharapkan akan mendesak pemerintah mereka. "Bagaimana optimisme dijaga adalah dengan memberikan informasi kepada pembayar pajak di negara-negara maju, agar mereka tetap meminta kepada pemerintahnya untuk mencapai kesepakatan sesuai dengan ilmu pengetahuan (bahwa pengurangan emisi harus sebesar 40% untuk negara maju)," kata Agus Purnomo kepada BBC. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||