|
Satelit selidiki daur ulang air
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Satelit Eropa akan menyediakan pandangan baru mengenai bagaimana air didaur ulang di bumi.
Pesawat angkasa luat Smos akan membuat peta global pertama kelembaban di tanah dan kuantitas garam yang larut di samudra. Data yang akan dikumpulkan akan banyak bermanfaat namun harus memperbaiki prakiraan cuaca dan peringatan situasi ekstrem seperti banjir. Peluncur dari Rusia Rokot yang membawa Smos bertolak dari Kosmodrom Plesetsk di Rusia hari Senin sekitar 04.50 waktu setempat. Sekitar 70 menit kemudian, bagian atas Rockot melepaskan wahana angkasa luar dan dikonfirmasikan semua berjalan baik seperti terpantau di stasiun bumi di Hartebeesthoek, dekat Johannesburg, Afrika Selatan. Satelit Soil Moisture and Ocean Salinity (Smos) atau satelit Kelembaban Tanah dan Tingkat Penggaraman Samudra dikirim ke orbit dalam beberapa tahun ke depan untuk mempelajari planet bumi. "Peluncuran berlangsung mulus," ujar Jean-Jacques Dordain, Direktur Jenderal "Ini bukan hanya sebuah satelit. Ini adalah peristiwa sangat penting. Ini adalah Penjelajah Bumi kedua dan kami mengkonfirmasikan bahwa Esa adalah lembaga antariksa utnuk membuat pemahaman baru perubahan iklim," katanya. Smos membawa satu instrumen yakni Miras yang akan mengukur perubahan dalam tingkat basah tanah dan tingkat garam air laut dengan mengamati variasi emisi mikrowave alamiah yang muncul dari permukaan planet. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||