|
Tahanan dikirim ke Palau
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Enam tahanan Uighur asal Cina yang ditahan di Teluk Guantanamo telah dipindahkan ke pulau Palau di kawasan Pasifik.
Pengacara bagi ketiga tahanan tersebut mengatakan mereka sudah tiba di Palau hari Sabtu pagi. Bulan Juni, Palau setuju menerima belasan tahanan Uighur yang ditangkap di Afghanistan, namun kemudian tidak termasuk kategori "enemy combatants (pejuang musuh). Cina menginginkan mereka dikembalikan, namun Amerika Serikat mengatakan mereka tidak akan dikembalikan ke cina, karena kuatir akan diperlukan dengan buruk. Beijing sudah berulang kali berusaha menangkap pembangkang Uighur, yang menurut mereka berusaha mencapai kemerdekaan di propinsi Xinjiang. Empat tahanan Uighur lainnya sudah dimukimkan di Bermuda awal tahun nii, dan lima orang lagi di Albania di tahun 2006. Aman dari tekanan Sebuah kantor pengacara yang mewakili tiga dari enam tahanan Uighur yang dibebaskan dari Guantanamo hari Sabtu mengukuhkan bahwa mereka sudah tiba di kota utama Pulau Palau, Koror. "Yang mereka inginkan adalah kehidupan yang damai, dimana mereka bisa hidup secara bebas dan demokratis bebas dari tekanan dari pemerintah Cina," kata Eric Tirschwell dari kantor pengacara Kramer Levin Naftalis & Frankel kantor berita Associated Press. "Terima kasih kepada Palau, yang sudah menjanjikan untuk memberikan mereka tempat berlindung sementara, sekarang mereka memiliki peluang tersebut," katanya. Tirschwell mengatakan beberapa tahanan itu sekarang sudah mulai belajar bahasa Inggris. Para bekas tahanan ini akan tinggal di sebuah bangunan lantai tiga, sekitar 5 menit berjalan kaki dari satu-satunya mesjid di Koror. Presiden Palau Johnson Toribiong mengatakan kepada BBC bahwa warga Uighur ini akan mendapatkan tempat tinggal sementara selama dua tahun. "Pada awalnya, mereka akan mendapatkan kursus bahasa Inggris, dan juga budaya dan sejarah kami selama beberapa bulan." "Kami akan mewawancarai mereka, untuk mengetahui ketrampilan yang mereka miliki, dan kemudian menempatkan mereka sesuai bidang yang mereka kuasai, sehingga mereka bisa mendapatkan pekerjaan." Sekitar 500 warga Palau beragama Islam, sebagian besar adalah pekerja migran asal Bangladesh. Kebanyakan menghadapi ancaman deportasi karena ijin kerja yang sudah habis. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||