BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 07 Oktober, 2009 - Published 07:17 GMT
 
Email kepada teman   Versi cetak
Pilihan strategi Golkar bertahan
 

 
 
Golkar
Dari perolehan suara 74%, pemilu lalu Golkar hanya dapat 14%
Sepuluh tahun terakhir adalah masa sulit bagi Golkar karena tiga kali pemilu, suara Golkar makin menurun.

Meski masih bertahan di jajaran tiga partai teratas di Indonesia, bersama PDI Perjuangan dan Demokrat, Golkar nampak makin sulit mengejar kembali kejayaannya di masa lalu.

Musyawarah Nasional VIII yang dibuka sejak Senin 5 Oktober, dianggap akan merupakan saat kritis bagaimana Golkar merumuskan strateginya untuk bertahan.

"Ini menjadi saat yang menentukan, karena banyak orang memperkirakan Golkar akan terus mengalami kemerosotan. Bahkan ada yang menduga bahwa ini adalah hari-hari terakhir bagi Golkar sebagai partai politik," kata Maswadi Rauf, pengajar Ilmu Politik di Universitas Indonesia.

Sejarah gemilang

Bagi Golkar pada masa Orde Baru, pemilihan umum tak ubahnya sekadar ajang mentahbiskan legitimasi Partai Golongan Karya untuk berkuasa lima tahun berikutnya.

 Bahkan ada yang menduga bahwa ini adalah hari-hari terakhir bagi Golkar sebagai partai politik
 
Maswadi Rauf

Namun seiring merosotnya kekuasaan Soeharto, masa subur partai beringin ini nampaknya makin mendekati akhir.

Golkar, lahir dengan nama Sekretaris bersama Golongan Karya alias Sekber Golkar, pada tahun 1964.

Tujuh tahun berikutnya Golkar sudah langsung memenangi pemilu 1971 dengan suara telak 62,8 persen. Pada pemilu-pemilu berikutnya, Golkar tumbuh kian rimbun dan subur.

Hingga era Reformasi, dimulai 1997-1998.

Suharto mundur, langsung diikuti dengan kejatuhan Golkar pada pemilu tahun 1999. Tapi Golkar masih berada di posisi kedua setelah PDI Perjuangan, dengan hanya 22 persen suara.

Tahun berikutnya karena kinerja PDIP dibawah Presiden Megawati Sukarnoputri banyak dianggap buruk, Golkar malah kembali jadi nomor satu meski dengan suara makin merosot, yakni 21 persen.

Golkar turun pamor setelah Suharto tidak lagi berkuasa

Pengamat politik Maswadi Rauf menilai Golkar mengalami perjalanan yang unik pada 10 tahun terakhir.

"Jadi banyak orang yang kaget pada 1999 itu, kok dia bisa bertahan, lalu kemudian bertahan kembali tahun 2004. Tapi kemudian tiba-tiba dia menurun kembali tahun 2009."

Situasi ini yang membuat banyak orang memperhatikan Golkar, simpul Maswadi, untuk melihat benarkah ada penurunan dukungan masyarakat terhadap Golkar.

"Bukan cuma karena Golkar sendiri memang kurang memperhatikan basis dukungannya, atau mungkin kah ini memang merupakan tren daris ebuah partai yang tadinya memang mendapat dukungan yang sangat luas."

Oposisi atau mitra

Apakah dukungan terhadap Golkar akan makin bertambah atau justru melemah, banyak diyakini bergantung pada sosok pimpinan barnya kelak.

Diantara empat kandidat yang sudah mengumumkan pencalonan mereka sebagai ketua umum Golkar, dua dianggap paling berpeluang: Surya Paloh dan Aburizal Bakrie.

Paloh seorang konglomerat media. Sementara Ical, selain dikenal sebagai pemilik sejumlah media, pejabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat

Perbedaan utama antara keduanya yang dipahami publik, sejauh ini menyangkut strategi meneruskan kepengurusan golkar mendatang: Ical tetap bersama pemerintah, Paloh mengklaim akan beroposisi.

Oposisi akan menjadi pilihan berani karena sejak berdiri tahun 1964, Golkar belum pernah lepas dari peran pemerintahan.

'Inilah kenapa sebagian besar orang didalam Golkar merasa sangat keberatan kalau Golkar menjadi partai oposisi. Menurut mereka bukan tradisi Golkar beroposisi," tambah Maswadi.

Namun dia menduga, alasan sesungguhnya bukan soal tradisi namun terkait pengalaman sejarah Golkar selama ini yang selalu dekat lingkar kekuasaan dan menikmati banyak fasilitas dari situ.

Kalla mengingatkan resiko pilihan mitra atau oposisi pemerintah

Kesimpulannya kata Maswadi, sebagian besar kader Golkar takut berpisah dengan kekuasaan akan membuat fasilitas yang mereka dapatkan selama ini hilang sehingga mereka makin ditinggalkan.

"Ini strategi pragmatisme ya, tidak ada urusan dengan soal ideologi,"

Ketua Umum Golkar yang kini merangkap jabatan sebagai Wakil Presiden, Jusuf Kalla membantah kalau Golkar sama sekali tak pernah berada dalam posisi oposisi.

Saat memenangi pemilu 2004 (meski kemudian kalah dalam pemilihan presiden di tahun yang sama), Golkar bertindak sebagai oposan partai berkuasa saat itu, PDIP, kata Kalla.

Meskipun, Kalla mengakui, pada saat yang sama ada kader Golkar duduk sebagai menteri dalam cabinet Presiden Megawati. Menurut Kalla, apapun pilihannya, Golkar harus menyadari resiko strategi berkawan atau berlawan dengan pemerintah yang berkuasa.

''Kalau mau jadi besar ya harus menjadi pimpinan pemerintahan dan pemerintahan itu berhasil, atau jadi oposisi. Kalau jadi oposisi tapi pemerintahannya berhasil ya tetap tidak menjadi besar."

"Sama dengan PDIP atau Gerindra yang luar biasa mencela dan mengkritik pemerintah, tapi karena pemerintah berhasil tetap tidak bisa'' tegas Jusuf Kalla.

Sebagai Ketua yang masih menjabat, Jusuf Kalla juga menolak menjawab, mana pilihan yang dirasanya lebih realistis untuk Golkar saat ini.

“Biar ketua baru yang menentukan, jangan saya,” kata Kalla.

Suara pesimistis

Nampaknya mayoritas kader Golkar sepakat, bahwa yang dibutuhkan Golkar saat ini adalah kepemimpinan kuat sebagai modal bersaing dengan partai-partai lain.

Namun apakah Ical maupun Paloh, dua-duanya berprofesi sebagai pengusaha, dinilai tidak memenuhi kriteria tersebut.

Sunny Tanuwidjaja dari lembaga penelitian CSIS meyakini hal ini.

 Apakah akan membangun partai Golkar lebih kuat, lebih modern, lebih disiplin ini akan membantu kepentingan pribadi mereka?
 
Sunny Tanuwidjaja

''Di masa-masa seperti ini semua orang bisa mengatakan ingin membangkitkan partai tapi yang seperti kita ketahui, Aburizal Bakrie dia mempunyai kepentingan sendiri seperti mendekatkan Golkar dengan kekuasaan karena dia mempunyai permasalahan soal Lapindo sehingga perlu dekat dengan orang yang berkuasa saat ini.''

Sementara Surya Paloh, menurut Sunny juga mempunyai berbagai macam bisnis yang harus dia kembangkan dan dilindungi. Pertanyaannya menurut Sunny, sejauh mana kepentingan itu berkorelasi positif dnegan upaya Golkar untuk bangkit.

"Apakah akan membangun partai Golkar lebih kuat, lebih modern, lebih disiplin ini akan membantu kepentingan pribadi mereka?''

Dari masa ke masa Golkar selalu dipimpin birokrat atau figur militer, namun kepemimpinan seorang pengusaha sebenarnya tidak terlalu asing.

Ketua Golkar 2004-2009, Jusuf Kalla, adalah seorang pebisnis asal Sulawesi Selatan. Jusuf Kalla juga membawa Golkar ikut dalam pemerintahan dengan duduk sebagai wakil presiden.

Pada kenyataannya, dibawah kepemimpinannya Golkar mengalami perolehan suara terendah sepanjang sejarahnya, hanya 14 persen dalam pemilu lalu.

 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman   Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy