BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 28 September, 2009 - Published 04:57 GMT
 
Email kepada teman   Versi cetak
Korban jiwa terus bertambah
 
Banjir Filipina
Korban jiwa akibat banjir di Filipina terus bertambah
Korban jiwa akibat banjir terburuk dalam 40 tahun terakhir di Filipina terus bertambah mencapai 86 jiwa.

Kementerian Pertahanan Filipina menerbitkan data sebanyak 435.000 orang harus kehilangan tempat tinggal. Angka ini dua kali lebih banyak dari perkiraan sebelumnya.

Sebuah operasi penyelamatan besar-besaran dilakukan setelah terjangan badai tropis Ketsana yang mengakibatkan hujan deras dan banjir di ibukota Manila serta kawan di sekitarnya.

Meski ketinggian air terus menurun, pantauan televisi menunjukkan banyak korban banjir masih terjebak di atap rumah dan mobil.

Menteri Pertahanan Filipina Gilbert Teodoro mengatakan 32 orang dinyatakan hilang dan mengatakan aparat militer, polisi dan sukarelawan telah menyelamatkan lebih dari 5.000 orang korban.

Namun, masih terus ditemukan jenazah korban meninggal yang terus menambah jumlah korban tewas.

Bencana nasional

Sebagian besar kawasan Manila masih terendam banjir

Upaya penyelamatan terus ditingkatkan saat cuaca semakin membaik, namun diperkirakan 80% kawasan ibukota Manila masih tergenang air.

Selama akhir pekan lalu, pemerintah mengumumkan status "bencana nasional" di Manila dan 25 provinsi lainnya untuk mencairkan anggaran darurat.

Presiden Gloria Macapagal Arroyo meninjau kawasan bencana selama akhir pekan lalu dan meminta agar masyarakat tetap tenang menghadapi apa yang dia sebut sebagai "kondisi ekstrim" ini sambil menjanjikan bantuan dana dan penyelamatan.

Sementara itu, BBC menerima sejumlah email yang mengungkapkan pengalaman para korban banjir.

Ramil Digal Culle dari Cavite City, di selatan Manila, dalam emailnya berkisah dia dan keluarganya terpaksa menghabiskan malam di atas atap tanpa makanan dan minuman.

"Para ibu sedang bekerja saat banjir datang dan mereka terjebak bersama saya sehingga tak bisa pulang," tulisnya.

"Sangat aneh saya masih bisa memperoleh akses internet di tengah bencana seperti ini sehingga saya bisa menggambarkan pengalaman ini, sementara pemerintah berjuang dengan minimnya sarana penyelamatan."

Sejumlah pejabat mengatakan banjir ini tak hanya disebabkan oleh badai tapi juga karena buruknya sistem drainase dan pengairan di Filipina.

Gubernur Provinsi Bulacan Joselito Mendoza mengatakan: "Sangat menyedihkan mengetahui banyak korban tenggelam di rumahnya sendiri saat badai menerjang."

Sementara itu, Kepala BMG Filipina Nathaniel Cruz mengatakan lebih dari 40cm hujan tercurah di Manila hanya dalam 12 jam hari Sabtu lalu. Angka ini jauh melampau curah hujan rata-rata September yang hanya 39cm.

Angka curah hujan tertinggi sebelumnya hanya 33 cm dalam 24 jam yang terjadi Juni 1967. Cruz sebelumnya menuding perubahan iklim yang menyebabkan tingginya curah hujan di Filipina.

Badai Ketsana dengan kecepatan maksimal 100 km/jam, menghantam Filipina Sabtu lalu, melintasi kawasan utara Pulau Luzon sebelum menuju ke Laut Cina Selatan.

 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman   Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy