19 Juli, 2009 - Published 14:21 GMT
Kepolisian Indonesia masih mencoba melakukan identifikasi atas beberapa korban ledakan Hotel Marriott dan Ritz Carlton.
Meski sudah disimpulkan pelaku memiliki hubungan dengan jaringan Noordin M. Top, polisi mengatakan masih harus memastikan keterkaitan para pelaku dengan otak berbagai aksi bom di Indonesia itu.
Wartawan BBC di Jakarta, Dewi Safitri, melaporkan kepolisian saat ini sudah menduga keras bahwa 2 pelakunya ikut tewas dalam ledakan.
Namun Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jendral (Pol) Nanan Sukarna
mengatakan masih dibutuhkan waktu agar dapat ditelisik secara jelas peran mereka.
"Sekarang sedang kita rekayasa atau kita rekonstruksi, wajah serta potongan tubuh yang ditemuakan. Apakah itu yang menginap di situ atau bukan," tuturnya kepada para wartawan.
Sejumlah media di Indonesia mengutip sumber yang menyebut salah satu pelaku adalah Nurhasbi alias Nuri Hasbi alias Nur Sahid.
Nurhasbi diduga merupakan orang yang mendaftar sebagai tamu kamar No. 1808 Hotel Marriott dengan menggunakan identitas palsu.
Nurhasbi sudah dikenal
Media mengutip pernyataan keluarga yang menyebut polisi telah mendatangi rumah orangtua Nurhasbi di Temanggung Jawa Tengah.
Namun hingga kini polisi belum banyak bicara tentang dugaan keterkaitannya dalam peristiwa pemboman ini.
Peneliti jaringan terorisme ICG, Sidney Jones, mengatakan nama Nurhasbi sudah dikenal lama terkait jaringan Noordin M. Top.
"Nama aslinya adalah Nur Said Abdurohman. Dia pada Tahun 2006, setahu saya, adalah orang yang menyewa rumah tempat Zabir dan Abdulhadi tewas ditembak polisi waktu mereka akan ditangkap setelah bom Bali 2," tambahnya.
Selain identifikasi para pelaku, tim Disaster Victim Identification atau DVI juga masih berupaya menguak identitas 3 jenazah korban lain, 2 diantaranya adalah WNA yang diduga merupakan warga Australia.
Seluruh korban tewas saat ini berada dibawah pengawalan polisi di RS Polri Dr. Sukanto Jakarta, sementara sejumlah korban luka dirawat dibeberapa RS terpisah di Jakarta dan Singapura.