17 Juli, 2009 - Published 19:42 GMT
Mantan presiden Iran, Ali Akbar Rafsanjani, meminta pembebasan orang-orang yang dipenjarakan seusai demo menentang hasil pemilihan presiden.
Dalam khutbah Jumat pertamanya sejak pilpres 12 Juni 2009, ia juga mengatakan bahwa sejumlah besar rakyat Iran masih meragukan hasil pemilihan itu.
Para pendukung oposisi menyela khutbah Jumat di Universitas Teheran itu dengan teriakan-teriakan yang mendukung calon presiden yang kalah, Mir Hossein Mousavi.
Di luar kampus, polisi menembakkan gar air mata untuk membubarkan para pendukung oposisi.
Ribuan mereka menggelar berkumpul di jalan-jalan dekat universitas --yang merupakan demonstrasi publik pertama selama lebih seminggu.
Banya yang memakai ikat kepala warna hijau dan juga memasang pita bentuk lain sebagai ungkapan dukungan untuk Mousavi, dan sejumlah pengunjuk rasa bahkan terdengar berteriak "ganyang diktator" dan "Allah Akbar".
Rapat hari Jumat itu berlangsung setelah keluar peringatan dari seorang menteri menjadikan sholat Jumat sebagai ajang "untuk melancarkan kegiatan yang tidak diinginkan.
Para saksi mata mentatakan, sejumlah orang ditahan termasuk pegiat terkemuka hak wanita, Shadi Sadr.
Mousavi, yang menghadiri sholat Jumat tempat Rafsanjani berbicara, menutut pengulangan pilpres dan menyebut pemerintah baru nanti sebagai pemerintah yang tidak sah.