16 Juli, 2009 - Published 07:02 GMT
Kondisi di tambang Freeport Tembagapura, Papua dilaporkan tenang setelah setidaknya tiga orang tewas dan belasan luka-luka akibat serangan.
Tambang milik perusahaan Amerika ini diserang oleh kelompok tak dikenal dalam lima hari belakangan.
Insiden serangan terakhir terjadi kemarin siang waktu setempat, saat serombongan aparat polisi yang berpatroli menjelang lewatnya tim Sekretaris Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan menuju Timika, tiba-tiba ditembaki di Mil 54 Mimika.
Akibatnya menurut Markas Besar Kepolisian, dua polisi luka.
Sejumlah media mengutip wakil divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jendral polisi Sulistyo Ishak, menyatakan kepolisian mengirim aparat polisi khusus untuk mengamankan lokasi.
Namun kepada BBC, Sulistyo mengatakan polisi "mengoptimalkan penjagaan aparat yang sudah ada disana."
Terkait gelombang serangan yang sudah lima kali terjadi sejak Sabtu dan antara lain menewaskan seorang warga Australia, Sulisto mengatakan sejak semalam kondisi Mimika relatif tenang.
"Situasi relatif kondusif. Tidak ada kontak senjata," jelas Sulistyo.
Sebagian libur
Kegiatan di perusahaan tambang emas dan tembaga Freeport yang terletak di dataran tinggi Tembagapura sendiri, tetap berlangsung menurut juru bicara Freeport Indonesia, Mindo Pangaribuan.
Freeport masih memberlakukan libur pada sekitar 800 pekerjanya yang tinggal di daerah dataran rendah, yang harus melewati daerah serangan untuk sampai ke pabrik pengolahan biji emas dan tembaga, jika hendak bekerja.
"Mereka diliburkan hingga kondisi keamanan pulih kembali," kata Mindo.
Mindo juga mengatakan, bahwa produksi Freeport yang merupakan penghasil emas dan tembaga dengan operasi terbesar didunia, tidak terpengaruh.
Sejumlah analisa dari kalangan pegiat Hak Asasi Manusia menyebut, serangan-serangan ini terjadi akibat adanya perebutan konsesi pengamanan atas industri tambang di dalam maupun diluar Freeport oleh aparat pengamanan baik polisi maupun tentara.
Mindo Pangaribuan menolak berkomentar tentang hal ini.
Mengutip laporan perusahaan tambang yang bermarkas di Arizona ini kepada Komisi Bursa Efek AS, dana pengamanan dilaporkan mencapai hampir 7 juta dollar atau sekitar 70 miliar rupiah pada 2004.
Diluar kegiatan tambang Freepot, dilaporkan juga terjadi kegiatan tambang oleh para pencari emas disekitar wilayah penambangan pabrik itu melibatkan ratusan orang.
Bisnis menggiurkan
Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, seperti dilaporkan kantor berita Associated Press, dalam sebuah pertemuan dengan editor media asing di Jakarta hari Rabu, meminta agar media tidak mengambil kesimpulan berdasarkan spekulasi.
"Saya sendiri curiga, ada kelompok kriminal di dalam dan luar Papua yang melihat situasi ini sebagai bisnis menggiurkan dan mungkin terjadi perebutan akses,'' kata Juwono.
Dari tahun ke tahun, insiden kerap dilaporan terjadi di Papua. Sejumlah masyarakat dan pegiat di Papua menentang keberadaan Freeport, yang diperkirakan meraup keuntungan miliaran dollar sementara rakyat Papua tetap miskin.
Jakarta telah mengirim mengirim sebuah tim khusus dibawah komando Sekretaris Menko Polhukam Letnan Jendral Roberto Romulo untuk menyelidiki rangkaian serangan ini.
Pemberitaan awal media mengutip kalangan TNI menyebut, kerusuhan terkait dengan para pengacau keamanan dari kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka.
Tuduhan itu banyak diragukan setelah muncul bantahan dari OPM sendiri, serta perhitungan bahwa organisasi ini relatif miskin peralatan dan kemampuan untuk membangun serangan seperti yang terjadi beberapa hari terakhir.