15 Juli, 2009 - Published 04:37 GMT
Sekitar 8.800 orang yang kehilangan rumah akibat pertempuran di Lembah Swat telah meninggalkan kam pengungsi dan kembali ke rumah mereka, kata pejabat setempat.
Sekitar 7.200 jiwa lagi diperkirakan juga meninggalkan lokasi yang sama hingga kemarin sementara sisa pengungsi lainnya yang hidup menumpang pada sanak-kerabat juga berdatangan kembali.
Mereka yang meninggalkan kam pengungsian diangkut dengan bus dan dikawal tentara.
Perdana Menteri Pakistan mengatakan akhir pekan lalu bahwa negeri itu kini aman dan warga yang mengungsi bisa kembali ke rumah setelah pertempuran anti Taliban.
Kolonel Waseem, juru bicara kelompok pendukung khusus angkatan bersenjata, mengatakan pada BBC Urdu hari Selasa bahwa 8.800 orang yang meninggalkan kam terdiri dari 1.100 keluarga.
"Hingga Selasa ini sekitar 900 keluarga lainya juga akan pergi dan memasuki wilayah Malakand," tambah Wasseem.
Dia mengatakan repatriasi berlangsung lambat Senin lalu namun kemudian bergerak cepat Selasa.
Namun jumlah jiwa yang kembali dari pengungsian masih jauh lebih sedikit dari yang diharapkan dalam tahap awal.
"Alasan besar kenapa pergerakannya lambat adalah karena proses registrasinya," kata Mohammad Rum, seorang petugas lapangan dari sebuah organisasi kemanusiaan lokal.
"Alasan lainnya adalah karena banyak warga menggunakan transportasi sendiri untuk kembali ke kampung halaman. Mereka harus melewati serangkaian pos pengecekan dan ini makan waktu cukup lama."
Rum mengatakan para pengungsi kemudian menggunakan sejumlah rute yang tidak biasa untuk kembali, karena itu justru menambah lamanya waktu untuk mencapai lokasi tujuan.
Para pengungsi dari empat kam kemanusiaan kini memilih pulang kampung, kata para pejabat. Sebagian besar menuju Mardan.
Mereka kembali dalam angkutan berupa bus dan truk.
Mereka berangkat dengan pengawalan tentara termasuk helikopter yang mengawal dari udara.
Pengawalan ketat ini menunjukkan bahwa diluar klaim pemerintah, Taliban tetap merupakan ancaman di wilayah ini.
Pemerintah menyatakan berharap seluruh pengungsi akan kembali ke Swat akhir bulan ini.
Namun menurut pekerja kemanusiaan, mungkin hal tersebut tidak bisa terjadi karena warga masih takut situasi Swat masih harus diperbaiki.
Seorang pengungsi di kam, Abdul Kabir, mengatakan pada BBC: "Saya tidak mau kembali dengan suka rela karena anak-anak saya takut pertempuran akan berkobar lagi."
"Pemerintah mengatakan mereka tidak akan memberikan bantuan dan transportasi kalau kami tidak berangkat sekarang jadi kami tidak punya pilihan."