|
Defisit Anggaran AS $1 triliun
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Defisit anggaran pemerintah AS meroket hingga lebih dari 1 triliun dollar untuk pertama kalinya - dengan sisa masa anggaran
masih tiga bulan lagi, demikian data resmi menunjukkan.
Pemerintah AS menaikkan besaran belanja untuk mengimbangi resesi, dimana dana talangan untuk lembaga keuangan merupakan bagian besar dari keuangan pemerintah ini. Merosotnya pendapatan pajak dan belanja pekerja yang juga turun turut menyumbang situasi ini. Angka defisit pada tahun fiskal 2007/8 mencapai 455 miliar dollar, namun tahun 2008/9 defisit diperkirakan melonjak. Defisit anggaran akan menganggu anggaran belanja untuk program seperti kesehatan dan pendidikan. Kecemasan meningkat Kongres telah menyetujui dana talangan untuk lembaga keuangan sebesar 700 miliar dollar dan anggaran stimulus senilai 787 miliar untuk mendorong bergeraknya roda ekonomi. Pekan lalu seorang anggota senior fraksi Demokrat AS mengatakan para legislator harus mulai mempertimbangkan kemungkinan perlunya
menggelontorkan dana paket stimulus kedua.
Namun bahkan sebelum ekonomi dunia masuk jaring resesi pun, AS telah terbiasa dengan defisit anggaran - yang sebagian besar didorong oleh adanya potongan pajak dan besarnya biaya perang di Irak. Perkiraan Departemen Keuangan menunjukkan defisit anggaran pada tahun fiskal ini, yang akan berlangsung hingga 30 September, akan mencapai 1,086 triliun dollar - bertambah 94,316 miliar dollar dari bulan sebelumnya. Situasi ini telah menimbulkan bertambahnya kecemasan diantara para pembeli kertas utang AS, termasuk Cina. Kondisi ini mungkin akan memaksa Departemen Keuangan untuk membayar bunga lebih tinggi kepada para pembeli bukti utang AS, agar secara jangka panjang menjadi lebih menarik, demikian pengamat. "Angka ini sangat meresahkan," kata Sung Won Sohn, seorang ekonom di Smith School of Business pada California State University. "Investor asing kita dari Cina dan negara lain mulai prihatin bukan hanya tentang nilai dollar tetapi juga tentang keamanan investasi mereka dalam jangka panjang." |
Berita utama saat ini
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||