BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 13 Juli, 2009 - Published 04:53 GMT
 
Email kepada teman   Versi cetak
Penembak Ramos disidangkan
 
Penembak
Para penembak Ramos Horta akan disidangkan
Seorang wanita Australia, Angelita Pires ada diantara 27 orang yang akan disidangkan dalam kasus upaya pembunuhan Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta.

Insiden penembakan itu sendiri terjadi pada 11 Februari 2008, ketika para penjaga dan pemberontak baku tembak di sekitar kediaman Ramos Horta.

Pemimpin pemberontak Alfredo Reinado dan seorang pemberontak tewas dalam serangan yang disebut Perdana Menteri Xanana Gusmao sebagai upaya kudeta.

Wanita Australia bernama Angelita Pires yang diketahui sebagai kekasih Alfredo Reinado tetap mengaku dia tidak bersalah.

Memegang dua kewarganegaraan Timor leste dan Australia, Pires 43 tahun mengatakan kepada wartawan dia tidak diberi kesempatan untuk menghadapi kasus ini.

''Saya berupaya untuk mendapatkan akses dalam kasus ini, agar mengetahui apa tuduhan yang ditujukan kepada saya,'' katanya.

Kejaksaan akan menuntut Pires dengan tuduhan mendorong Reinado untuk membunuh presiden dan perdana menteri.

Pengacara Pires, Jon Tippett mengatakan kasus ini bertentangan dengan kenyataan '' tidak ada harapan, tidak cukup bukti dan tak berdasar''.

Kuasa hukum Pires akan mencari sebanyak mungkin bukti yang diajukan negara sebagai bukti yang dianggap tidak dapat diterima, katanya.

Antonio Pires, kaka Angelita mengatakan keluarga mereka tidak memiliki keyakinan atas sistem peradilan Timor Leste.

Ketidakstabilan

Penembakan Ramos Horta menyebabkan pendeklarasian negara dalam keadaan bahaya di Timor Leste dan meningkatkan kekhawatiran atas stabilitas negara itu.

Bagaimanapun, Gastao Salsinha yang menggantikan pimpinan pemberontak Reinado yang tewas dalam baku tembak akhirnya menyerah kepada pemerintah di bulan April tahun lalu.

PM Xanan Gusmao sendiri berhasil lolos dan tidak terluka dalam serangan dihari yang sama ketika presiden Horta tertembak dan luka serius.

Para pemberontak merupakan para tentara desersi dengan aksi protes yang menyebabkan kekerasan di tahun 2006 dan menyebabkan 30 orang tewas.

Aksi kekerasan itu sendiri disulut oleh keputusan PM Mari Alkatiri memecat 600 angota tentara.

 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman   Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy