BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 06 Juli, 2009 - Published 04:23 GMT
 
Email kepada teman   Versi cetak
Pesawat Zelaya diblokade
 
Honduras
Tentara menghalangi pendukung Zelaya datang ke bandara
Presiden Honduras yang digulingkan, Manuel Zelaya gagal terbang kembali ke negaranya dalam sebuah upaya dramatis.

Pesawatnya terbang berputar-putar di bandara Tegucigalpa namun gagal mendarat karena pihak berwenang menghalangi landas pacu.

Sebelumnya dua orang tewas sementara tentara menahan pendukung Zelaya yang berkumpul di bandara.

Zelaya, yang digulingkan pekan lalu, kini tiba di Eal Salvador dimana dia akan bertemu para pemimpin regional yang mendukungnya.

Setelah beberapa kali gagal mendarat di bandara kendaraan militer ditempatkan di landasan, pesawat akhirnya terbang ke Nikaragua dimana Zelaya bertemu Presiden Daniel Ortega.

 Jika saya punya parasut saya akan segera terjun ke luar pesawat
 
Manuel Zelaya

Presiden terguling ini datang ke El Salvador dimana dia akan bertemua Preisden Argentina, Ekuador, Paraguay serta kepala Organisasi Negara-negara Amerika (OAS).

Pemerintah baru yang mengatakan berkuasa melalui proses legal menawarkan perundingan dengan masyarakat internasional, kata wartawan BBC Stephen Gibbs di Tegucigalpa.

Namun satu hal yang tidak dapat dirundingkan yakni kembalinya Zelaya ke kursi kepresidena, tambah wartawan BBC.

Dua orang tewas

Sementara pesawat mendekati Tegicugalpa tentara melepaskan gas air mata ke ribuan pendukung Zelaya supporters yang sebagian diantaranya melemparkan batu.

Ribuan orang berhasil menembus barikade keamanan.

Sumber-sumber di rumah sakit dan kepolisian mengatakan, sedikitnya dua orang tewas dan sejumlah orang terluka.

Setelah pesawat Zelaya kembali, pendukungnya mulai meneriakkan yel-yel "Kami ingin pasukan helm biru !", yang berarti pasukan penjaga perdamaian PBB.

Pendukung Zelaya, Karin Antunez berurai mata.

"Kami merasa sedih karena tentara yang kudeta ini tidak membiarkan Mel (nama kecil Zelaya) kembali namun kami tidak akan menyerah," katanya.

Pegiat hak asasi manusia Matias Sauceda (65) mengatakan, "Ini adalah perang. Bayangkan situasi yang begitu buruk presiden di udara dan mereka tidak mau membiarkan dia mendarat."

Pemerintah baru memberlakukan larangan keluar rumah mulai terbenam matahari sampai terbit matahari.

 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman   Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy