BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 05 Juli, 2009 - Published 11:46 GMT
 
Email kepada teman   Versi cetak
Ulama Iran: pilpres tak sah
 
Ulama
Perpecahan diantara ulama di Iran semakin besar
Sejumlah ulama di Iran menyebut pemilihan presiden tidak sah, bertentangan dengan hasil resmi yang telah diumumkan pemerintah.

Pernyataan kelompok pro-reformasi itu bertentangan dengan pernyataan Dewan Pengawal Konstitusi yang minggu lalu secara resmi mensahkah pemilihan Mahmoud Ahmadinejad.

Hari Sabtu, mantan presiden Akbar Hashemi Rafsanjani, mengatakan kejadian paska pemilu menimbulkan kekecewaan.

Inggris mengatakan salah seorang dari dua staff kedutaan Inggris yang ditahan karena "memicu protes" akan dibebaskan.

Kelompok pro reformasi itu mengatakan dalam satu pernyataan bahwa Dewan Pengawal, tidak lagi memiliki "hak untuk menilai kasus ini."

Dalam satu pernyataan kepada media, Dewan Ulama dan Peneliti Qom mengatakan sejumlah anggota Dewan Pengawal telah "kehilangan citra ketidakberpihakan di mata rakyat."

"Bagaimana orang dapat menerima hasil pemilu hanya karena Dewan Pengawal mengatakan demikian? Apakah orang dapat mengatakan pemerintah yang lahir dari pelanggara adalah yang sah," sebut pernyataan itu.

Perpecahan

Dua belas anggota Dewan Pengawal terdiri dari enam pemuka agama, dan ditunjuk oleh pemimpin spiritual dan enam juri.

Pernyataan itu merupakan petunjuk lebih lanjut terjadinya perpecahan dalam elit Iran, menurut sejumlah laporan.

Rafsanjani
Rafsanjani dapat menjadi penengah dalam sengketa pilpres

Sejumlah laporan menyebutkan pernyataan itu merupakan tindakan penentangan terhadap pemimpin spiritual Ayatollah Ali Khamenei.

Kelompok itu mengatakan Dewan Pengawal tidak "memperhatikan" keluhan yang diajukan capres yang kalah Mir Houssein Mousavi dan Mehdi Karroubi, dan mendesak agar ulama lain mendukung mereka dalam menyerukan bahwa pemilihan presiden dan pemerintah baru tidak sah.

Hari Sabtu, Rafsanjadi, seorang tokoh berpengaruh dalam politik Iran dan pendukung Mousavi dalam pemilihan, bertemu dengan keluarga sejumlah orang yang ditahan.

Inilah untuk pertama kalinya ia berbicara secara terbuka sejak pemilihan presiden. Ia mengatakan kepada keluarga mereka yang ditahan, tidak ada seorangpun dengan "kesadaran penuh" akan puas dengan keadaan yang terjadi sekarang.

Kerusuhan Iran
12 Juni pemilihan presiden dengan kemenangan Mahmoud Ahmadinejad, dengan 63% suara
Penantang utamanya Mir Hossein Mousavi menyerukan agar hasil dibatalkan karena terjadi pelanggaran
Protes di jalan-jalan menyebabkan paling tidak 17 orang tewas dan media asing dibatasi

Wartawan BBC mengatakan Rafsanjani tampaknya mengindikasikan bahwa proses yang masih berlangsung di balik layar, dapat menyelesaikan krisis.

Secara terpisah, salah seorang dari dua staff kedutaan Inggris di Tehran dijadwalkan akan dibebaskan hari Minggu, menurut Mentri Luar Negri David Miliband.

Sembilan warga Iran yang bekerja sebagai staff lokal kedutaan ditahan dan dituduh memicu kerusuhan setelah hasil pemilihan presiden dipersengketakan.

Banyak pihak yang kawatir hari Jumat saat seorang ulama senior Iran mengatakan sejumlah diantara mereka akan diadili.

Miliband mengatakan kepada BBC upaya akan dipusatkan pada pembebasan staff yang masih ditahan.

Tehran berulangkali menuduh pihak asing, khususnya Inggris dan Amerika Serikat, memicu kerusuhan setelah pemilihan presiden.

 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman   Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy