http://www.bbc.com/indonesian/

28 Januari, 2009 - Published 15:58 GMT

Pertumbuhan dunia 'terendah'

Pertumbuhan ekonomi dunia akan turun ke sekitar 0,5% tahun ini, dan tingkat ini merupakan yang terendah sejak Perang Dunia II, kata Dana Moneter Internasional (IMF).

Pada bulan Oktober, IMF memprediksi output dunia naik sebesar 2,2% pada tahun 2009.

Badan dunia itu kini memproyeksikan Inggris, yang baru-baru ini resmi memasuki resesi, akan mengalami kontraksi ekonomi 2,8% tahun depan, kontraksi terburuk di antara negara-negara maju.

IMF mengatakan, pasar keuangan tetap tertekan dan ekonomi global menghadapi "belokan tajam ke arah yang lebih buruk".

IMF menyatakan, akibatnya output dunia dan perdagangan merosot.

"Kami kini mengharapkan ekonomi global bisa dikatakan berhenti," kata ekonom kepala IMF Olivier Blanchard dalam pernyataannya.

IMF mengatakan, meski ada beberapa kebijakan, yang ditempuh oleh banyak negara, tekanan finansial masih ada.

Kerjasama internasional diperlukan kini untuk menyusun prakarsa kebijakan baru, dan suntikan modal untuk mendukung "lembaga keuangan yang bisa bertahan hidup terus".

Sementara itu, IMF memprediksi ekonomi eurozone atau zona negara pemakai mata uang euro akan mengalami penyusutan 2,0% pada tahun 2009 dan ekonomi Amerika 1,6%.

Pasar primer

Laporan ini dikeluarkan pada hari Organisasi Buruh Internasional, ILO, mengatakan, 51 juta pekerjaan di seluruh dunia akan ditutup tahun ini akibat krisis ekonomi global.

Pertumbuhan di negara berkembang diharapkan akan berlanjut pada laju yang lebih mantap dan mampu mengimbangi resesi di negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris.

Wartawan BBC Greg Wood mengatakan: "Resesi juga akan berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan".

Negara-negara seperti Cina kini mengalami kesulitan dengan merosotnya permintaan dari pasar ekpor primer mereka.

Sementara itu, negara-negara ekonomi maju, seperti Jepang, Spanyol, dan Inggris mengalami resesi, dengan PHK baru diumumkan setiap hari.

'Ketidakpastian'

IMF mengatakan, pertumbuhan di negara berkembang dan sedang bangkit diperkirakan mengalami perlambatan tajam, dari 6.25% pada tahun 2008 ke 3.,5% pada 2009.

IMF menyebutkan penyebab utama penurunan itu permintaan ekspor turun, harga komoditor lebih rendah, dan pembatasan pembiayaan eksternal yang lebih ketat.

IMF menekankan upaya kebijakan untuk mengatasi penurunan ekonomi sejauh ini, termasuk dukungan likuiditas, asuransi deposito dan rekapitalisasi, disusun untuk mengatasi ancaman langsung terhadap stabilitas keuangan.

Namun, IMF mengatakan, langkah-langkah darurat ini "tidak berdampak banyak untuk menanggulangi ketidakpastian likuiditas jangka panjang lembaga keuangan".

'Bank bermasalah'

IMF mengatakan, kebijakan keuangan terkoordinasi di masa datang seyogyanya berkonsentrasi untuk memperhitungkan tingkat kerugian lembaga-lembaga keuangan dan memberikan dukungan publik kepada lembaga-lembaga yang bisa bertahan hidup.

"Kebijakan semacam itu seyogyang didukung dengan langkah-langkah untuk mengatasi bank yang macet dan mendirikan lembag publik untuk melepaskan kredit bermasalah, termausk melalui pendekatan 'bank bermasalah', selagi mengamankan sumber daya publik."

IMF mengatakan, ekonomi global diproyeksikan mengalami pemulihan bertahap pada tahun 2010, dengan laju pertumbuhan naik ke 3%.

"Namun, prospek ini sangat tidak menentu, dan waktu dan ruang pemulihanan sangat bergantung pada aksi kebijakan yang tegas," kata IMF.