|
Sony kurangi ribuan karyawan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Perusahaan raksasa elektronika Jepang, Sony, mengumumkan akan mem-PHK 8.000 ribu karyawan atau sekitar lima persen tenaga
kerjanya di seluruh dunia.
Selain itu, Sony juga akan menutup sepuluh persen fasilitas produksinya. Perusahaan Jepang tersebut mengatakan, pengurangan tenaga kerja itu akan dilakukan sebelum April 2010, tapi tidak menyebutkan negara tempat pengurangan akan dilakukan. Menurut Sony, perusahaan itu telah mencoba mengurangi produksi akibat kelesuan ekonomi, tapi memperingatkan masih harus melakukan langkah lain. Perkembangan ini terjadi, sementara data baru mengindikasikan, Jepang mengalami resesi lebih parah dari yang diperkirakan dalam masa tiga bulan hingga September. Kantor Kabinet mengatakan, ekonomi negara itu mengalami kontraksi dengan laju tahunan 1,8% dalam kuartal tersebut. Jepang, yang merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Jepang, mengalami penyusutan 0,5% atau lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya, 0.4%. Jika dihitung dalam laju tahunan, kontraksi itu mencapai 1,8%. Sony mengatakan keputusan untuk memberhentikan ribuan pekerja harus dilakukan untuk mengurangi pengeluaran perusahaan sekitar satu miliar dollar per tahun. Sony sudah memperingatkan keuntungan perusahaan akan kurang dari separuh jika dibandingkan dengan angka tahun sebelumnya, meski Sony gencar mempromosikan televisi layar datar dan konsol game, Playstation Three. Banyak perusahaan Jepang menutup pabrik dan memberhentikan staff, sementara permintaan yang merosot dan kurs yen menguat. Perdana Menteri Jepang Taro Aso menjanjikan belanja publik untuk meredam dampak resesi. Berita-berita negatif hampir tiada henti mengalir dari kalangan perusahaan Jepang dalam beberapa pekan terakhir, sehingga tidak terlalu mengejutkan bahwa resesi di negara tersebut semakin dalam. Yang merisaukan adalah betapa cepat situasi memburuk. Produk Domestik Bruto, GDP, yang menjadi ukuran output barang dan jasa suatu negara, turun dengan laju tahunan 1,8 dalam kuartal terbaru. Dan, besaran itu lebih besar dari penurunan yang diprediksi oleh kalangan ekonom yang pesimistis sekali pun. Angka kebangkrutan di kalangan perusahaan kecil meningkat, sementara perusahaan-perusahaan besar, seperti Sony dan Toyota, mendapati laba mereka berkurang akibat penurunan angka penjualan dan kenaikan nilai yen Jepang. Banyak orang mempersalahkan perdana menteri Taro Aso karena membiarkan resesi memburuk. Jajak pendapat menunjukkan hanya satu dari setiap lima pemilih masih mendukung Aso. Aso berjanji memperbesar belanja publik, dan membantu keluarga serta usaha kecil, tapi sebagian rencananya disambut skeptisme dari sektor publik dan kubu oposisi di tubuh partai politiknya sendiri. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||