20 November, 2008 - Published 10:01 GMT
Bajak laut yang menguasai tanker minyak di lepas pantai Somalia dilaporkan menuntut uang tebusan sebesar U$ 25 juta.
Kantor berita AFP mengutip seorang pembajak yang mengatakan mereka sudah menetapkan batas waktu 10 hari bagi pemiliki tanker untuk memenuhi tuntutan tersebut.
Sirius Star merupakan kapal terbesar yang pernah dibajak dengan membawa 2 juta barrel minyak Arab Saudi, yang diperkirakan bernilai US$ 100 juta lebih.
"Kami tidak menginginkan perundingan yang panjang untuk menyelesaikan masalah ini," kata Mohamed Said seperti dikutip AFP.
"Pihak Saudi hanya punya waktu 10 hari untuk memenuhinya atau kami akan mengambil tindakan yang mendatangkan malapetaka," tambahnya.
Hari Rabu kemarin Kementerian Luar Negeri Saudi mengukuhkan memang telah terjadi kontak antara pemilik kapal dengan para pembajak.
Pembajakan meningkat
![]() |
|
| Teluk Aden di lepas pantai Somalia merupakan daerah rawan |
Bagaimanapun Kementrian Luar Negeri Saudi menegaskan pihaknya tidak terlibat dalam perundingan yang berkaitan dengan uang tebusan, namun hanya bergabung dalam satuan tugas.
Sementara itu Vela International yang mengopersikan Sirius Star tidak memberi komentar atas perundingan yang disebut sedang berlangsung itu.
Sirius Star dibajak Sabtu lalu dan terdapat 25 awak di sana, yang merupakan 2 warga Inggrus, 2 warga Polandia, 1 Kroasia, 1 Saudi dan 19 warga Filipina.
Kelompok yang membajak Sirius Star dini diperkirakan merupakan kelompok yang canggih dengan kontak-kontak di Dubai dan negara-negara tetangganya.
Belakangan ini terjadi peningkatan pembajakan kapal di lepas pantai Somalia, khususnya di kawasan Teluk Aden.
Hari Selasa, sebuah kapal barang dan kapal penangkap ikan dibajak, yang menambah tercatat 90 kapal yang sudah dibajak sepanjang Tahun 2008.
Kaitan dengan pemberontak?
Di Inggris, sebuah lembaga menuduh bajak laut Somalia telah membentuk pertalian yang disebut sebagai 'aliansi laut lepas dengan kelompok pemberontak Islam di negara itu.'
Lembaga tersebut, Jane's Terrorism and Security Monitor, mengatakan kelompok pemberontak menggunakan pembajak dalam menyelundupkan senjata dan pasokan kebutuhan.
Dan sebagai imbalannya, mereka memberikan tempat untuk bersembunyi bagi para bajak laut.
Wartawan BBC untuk kawasan Afrika, Martin Plaut, menyebutkan lembaga yang bermarkas di London itu juga menulis bahwa para pembajak memberi pelatihan tentang taktik-taktik pergerakan di laut kepada kelompok Islam garis keras Somalia.
Sebenarnya Mahkamah Persatuan Islam, UIC, yang sempat menguasai sejumlah besar wilayah Somalia pada Tahun 2006, mengambil tindakan untuk memberantas bajak laut di kawasan Hobyo dan Harardheere.
Namun setelah UIC digulingkan --seperti ditulis oleh Jane's Terrorism and Security Monitor-- berbagai kelompok Islam garis keras menjalin kaitan dengan bajak laut.