|
Cina khawatirkan pengangguran
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Cina mengatakan sektor tenaga kerja di negara itu diperkirakan akan "suram", di tengah kekhawatiran bahwa masalah perekonomian
yang dialami akan memicu kerusuhan sosial.
Angka pengangguran diperkirakan akan meningkat tahun depan di saat berbagai perusahaan dan kantor tutup karena permintaan sepi. Para pemimpin Cina sudah memperingatkan bahwa kelesuan ekonomi bisa menimbulkan semakin banyak protes oleh orang-orang yang menghadapi kesulitan keuangan. Hal itu juga bisa mengancam kepemimpinan Cina, yang legitimasinya dibangun di atas janji memperbaiki standar kehidupan rakyatnya.
Dalam beberapa minggu terakhir, terdapat peningkatan tanda-tanda bahwa Cina merasakan dampak pelambatan ekonomi global. Yin Weimin, menteri sumber daya manusia dan jaminan sosial, mengatakan bahwa masalah ekonomi menyebabkan kondisi tenaga kerja di Cina "suram". "Ini khususnya terjadi pada perusahaan yang mengandalkan banyak tenaga kerja, pada usaha kecil dan menengah," kata Yin Weimin pada sebuah jumpa pers. Dia mengatakan beberapa perusahaan sudah bangkrut, sementara yang lainnya mengurangi produksi sehingga harus mengurangi jumlah karyawannya. 'Insiden massal' Aparat berwenang Cina berharap angka pengangguran bisa ditekan agar tidak melebihi target 4,5% tahun ini, namun angka itu diperkirakan akan naik tahun depan.
"Adalah hal yang sangat penting untuk menjaga stabilitas di sektor tenaga kerja," tambah Yin Weimin. Mempertahankan stabilitas di bidang tenaga kerja adalah hal penting di Cina karena para pemimpin negara itu khawatir orang-orang yang kehilangan pekerjaan akan melakukan unjuk rasa. Meng Jianzhu, menteri urusan keamanan masyarakat, pekan ini memperingatkan agar pihak kepolisian "menyadari penuh tantangan yang datang akibat krisis keuangan global". Dia mengatakan para petugas polisi harus berhati-hati dalam menangani "insiden massal", istilah yang digunakan Beijing bagi unjuk rasa oleh rakyat biasa. Aksi protes semacam itu sering terjadi di Cina, meski hal itu sering merupakan insiden tersendiri yang dipicu oleh keluhan-keluhan pada pemerintah setempat. Puluhan pengunjukrasa mengamuk pekan ini di kota Longnan, di provinsi Gansu di Cina barat.
Menurut sejumlah laporan dari media pemerintah, para demonstran menyerang gedung-gedung pemerintah, merusak kendaraan dan melukai sejumlah petugas polisi. Mereka memprotes rencana pemerintah setempat untuk merelokasi mereka. Profesor Joseph Cheng dari City University, Hong Kong mengatakan legitimasi pemerintah Cina dibangun di atas janji pertumbuhan ekonomi. "Jika rakyat melihat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa dipertahankan lagi, maka mereka menilai pemerintah gagal," katanya. Dia memperingatkan bahwa jurang pemisah antara kaya dan miskin yang meluas di Cina bisa memperburuk masalah ekonomi yang dihadapi saat ini. "Karena ini, kesulitan yang dihadapi oleh mereka yang menderita menjadi begitu berat," katanya. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||