http://www.bbc.com/indonesian/

06 Oktober, 2008 - Published 09:17 GMT

Serangan bunuh diri di Sri Lanka

Serangan bom bunuh diri di Anuradhapura, Sri Lanka, menewaskan lebih dari 25 orang, termasuk seorang jendral, menurut departemen pertahanan.

Mayor Jendral Janaka Perera, komandan di semenanjung Jaffna tahun 1990an, meninggal bersama istrinya.

Lebih dari 65 orang terluka saat seorang pembom bunuh diri meledakkan diri di kantor Partai Persatuan Nasional (UNP) di dekat depot bus, kata para pejabat.

Para pejabat menyatakan serangan itu dilakukan oleh kelompok pemberontak Harimau Tamil.

Serangan pemerintah

Mayor jendral Perera adalah pemimpin daerah partai oposisi UNP dan merupakan pengkritik Presiden Mahinda Rajapaksa.

UNP menuduh pemerintah mengabaikan permintaan agar Mayjen Perera diberikan perlindungan yang lebih baik.

"Pemerintah harus bertanggung jawab. Mereka tidak memberikan perlindungan karena alasan politik," kata pejabat partai, Tissa Attanayake.

Serangan itu terjadi setelah militer Sri Lanka terus menyerang markas Harimau Tamil di Kilinochchi.

Kepala staff angkatan darat mengatakan pasukannya berada sekitar dua kilometer dari markas Harimau Tamil di kota itu.

Para wartawan tidak diijinkan masuk ke arena pertempuran untuk memastikan klaim itu.

Namun serangan pemerintah itu menimbulkan kekawatiran bahwa Harimau Tamil akan meningkatkan serangan bunuh diri.

Para analis memperingatkan pemberontak masih memiliki pembom bunuh diri yang dapat dikerahkan, dan bahwa kemampuan pemberontak untuk melakukan serangan seperti tidak dapat diabaikan begitu saja.

'Kejahatan perang'

Mayor Jendral Perera adalah salah seorang pejabat militer yang terkenal di Sri Lanka dan ia menjadi pernah menjadi komandan di Semenanjung Jaffna, markas Harimau Tamil di pertengahan tahun 1990an.

Masyarakat Tamil menuduhnya bertanggung jawab atas meninggalnya ratusan orang dan penyiksaan terhadap warga Tamil selama masa itu.

Kelompok hak asasi manusia, Amnesty Internasional, juga mengangkat keprihatinan itu.

Setelah pensiun dari tentara, Jendral Perera menjabat sebagai duta besar Sri Lanka di Australia dan duta besar di Indonesia.

Pengangkatannya sebagai utusan di Australia bulan Juni 2001 menyebabkan demonstrasi di Sydney.

Lebih dari 300 warga Tamil melakukan protes di luar parlemen Australia, dan menuduh Jendral Perera melakukan "kejahatan perang".

Kelopok Harimau Tamil mengibarkan perang untuk membentuk negara tersendiri selama seperempat abad ini dan sekitar 70.000 orang tewas selama periode itu.