08 September, 2008 - Published 10:36 GMT
Tentara Amerika Serikat di Afghanistan menyelidiki kembali serangan udara kontroversial yang dilaporkan menewaskan banyak penduduk sipil.
Militer AS mengatakan terdapat informasi baru tentang serangan terhadap Taliban di provinsi Herat di barat.
Pihak Amerika sebelumnya membantah klaim yang disampaikan penduduk setempat bahwa sebanyak 90 penduduk sipil terbunuh dalam serangan itu.
Penyelidikan itu diumumkan di saat kelompok Human Rights Watch (HRW), memperingatkan bahwa serangan-serangan semacam itu dapat mengurangi dukungan bagi Afghanistan, NATO dan pasukan AS.
Kelompok hak azazi manusia yang berkantor di New York itu mengatakan kematian penduduk sipil akibat serangan udara pasukan koalisi internasional naik sampai tiga kali lipat antara tahun 2006 dan 2007.
HRW mengatakan mengandalkan pasukan di darat dalam jumlah kecil dan pasukan udara dalam jumlah besar menyebabkan "kesalahan" yang "secara dramatis mengurangi" dukungan bagi pemerintah Afghanistan dan pasukan internasional.
"Kematian penduduk sipil akibat gempuran udara berfungsi sebagai alat perekrut bagi Taliban dan beresiko mengancam upaya internasional untuk memberi keamanan dasar bagi rakyat Afghanistan," kata Brad Adams, direktur Human Rights Watch untuk Asia, dalam pernyataannya.
Makam-makam baru
Laporan itu disampaikan dua minggu setelah serangan udara darat oleh pasukan pimpinan Amerika terhadap desa Azizabad di Shindand, Herat.
Amerika Serikat mengatakan tujuh penduduk sipil terbunuh dalam operasi yang dikatan berhasil untuk melumpuhkan seorang komandan Taliban.
Namun rekaman video yang diambil dari telepon genggam diduga memperlihatkan puluhan jenazah memperkuat klaim warga setempat bahwa sekitar 90 penduduk sipil terbunuh dalam serangan tersebut.
Video itu diduga memperlihatkan puluhan jenazah - banyak diantaranya adalah wanita dan anak-anak - diletakkan di sebuah masjid di desa itu.
Pemerintah Afghanistan dan PBB sudah melakukan penyelidikan sendiri atas serangan tersebut.
Mereka mengatakan bukti video itu, dan keberadaan banyak makam baru di desa tersebut, mengukuhkan pernyataan penduduk setempat.
Pada hari Minggu, seorang panglima senior AS di Afghanistan, David McKiernan, mengatakan menimbang bukti baru itu, dia telah meminta badan penyelidik untuk membuka kembali kasus itu.
Merusak reputasi
Human Rights Watch menemukan bahwa pada tahun 2008 setidaknya 321 warga sipil Afghanistan terbunuh dalam serangan udara pasukan internasional - naik dari setidaknya 230 orang tewas pada tahun 2006.
Angka ini jauh lebih rendah dari jumlah penduduk sipil yang tewas dalam serangan militan, kata HRW. Hampir 950 orang terbunuh oleh kelompok militan pada tahun 2008, dibandingkan dengan 700 orang pada tahun 2006.
HRW mengatakan sebagian besar korban serangan udara jatuh dalam penyerbuan mendadak, ketika angkatan udara diminta memberi bantuan bagi pasukan darat.
"AS dan NATO harus memperbaiki secara dramatis kerja sama di antara merek dan dengan pemerintah Afghanistan," kata Rachel Reid dari HRW kepada BBC.
Presiden Afghanistan Hamid Karzai kembali memperingatkan AS dan NATO bahwa kematian warga sipil mengancam posisi pemerintahnya dan merusak reputasi pasukan asing di Afghanistan.