|
Presiden Turki kunjungi Armenia
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Kunjungan bersejarah Presiden Turki Abdullah Gul ke Armenia itu juga disambut oleh banyak pengunjuk rasa yang turun ke jalan-jalan
ibukota negara itu, Yerevan.
Bersama-sama dengan mitranya dari Armenia itu, Abdullah Gul menonton pertandingan sepakbola babak kualifikasi Piala Dunia 2010 antara tim kedua negara, yang sebelumnya belum pernah berhadapan. Kunjungan ini menandakan mencairnya hubungan antara kedua negara. Namun Presiden Gul disambut kemarahan sejumlah demonstran yang membawa bendera dan plakat bertuliskan: "Akuilah genosida". Ini adalah pertama kalinya seorang pemimpin Turki menginjakkan kaki di Armenia, setelah diundang oleh Presiden Serzh Sargsyan untuk menyaksikan pertandingan yang dimenangkan Turki 2-0. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy memuji kunjungan itu dan menyebutnya "berani dan bersejarah". "Kunjungan itu memungkinkan kemajuan segera dalam membangun hubungan antara Turki dan Armenia," kata Presiden Sarkozy, yang saat ini menjabat kursi kepresidenan Uni Eropa. Namun para pendukung tim sepakbola Armenia dilaporkan mencemooh dan menyoraki Presiden Gul ketika akan duduk di seksi khusus dikelilingi dinding kaca anti peluru di Stadion Hrazdan di Yerevan. Kunjungan 'pengkhianatan' Kedua negara selama ini berperang mulut mengenai upaya Armenia untuk mencap pembunuhan massal warga sipil Armenia oleh pasukan Usmaniyah selama Perang Dunia I sebagai genosida.
Sebelum meninggalkan Ankara, Gul mengatakan, dia berharap pertandingan sepakbola itu dapat membantu menghilangkan permusuhan antara kedua bangsa, yang secara resmi tidak memiliki hubungan diplomatik. Akan tetapi, undangan itu sudah memicu perdebatan besar di Turki, dengan sebagian kalangan nasionalis menganggap keputusan presiden untuk menerima undangan tersebut sebagai pengkhianatan terhadap kepentingan nasional Turki. Puluhan negara, badan-badan internasional dan sejumlah ahli sejarah Barat mengakui pembunuhan warga sipil Armenia itu sebagai sebuah genosida. Turki mengakui banyak warga Armenia yang terbunuh, namun menyangkal melakukan genosida, dengan mengatakan pembunuhan itu adalah bagian dari perang dunia. Kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik sejak Armenia merdeka dari Uni Soviet tahun 1991. Perbatasan kedua negara ditutup sejak perang antara Armenia dan sekutu Turki, Azerbaijan, di tahun 1990-an mengenai daerah
Nagorno-Karabakh yang dipertikaikan. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||