|
Zardari menang pilpres Pakistan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Asif Ali Zardari, duda dari mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto, berhasil meraih kemenangan dalam pemilihan Presiden Pakistan.
Pemilihan presiden ini ditempuh setelah Pervez Musharraf mundur karena kekuatiran akan impeachment atau tuntutan mundur . Zardari menghadapi problem ekonomi dan pemberontakan Islam yang mengancam stabilitas Pakistan. Sementara itu sebuah bom di Peshawar dan menewaskan sedikitnya 12 orang. Pemilihan presiden dilakukan lewat pemungutan suara tertutup di majelis nasional dan 4 majelis propinsi. Walaupun hasil resmi masih belum diumumkan untuk Propinsi Punjab, Komisi Pemilihan Umum mengatakan Zardari telah merebut 459 suara, lebih banyak dari 352 yang dibutuhkan untuk menjamin kemenangan. Tokoh kontroversial
Zardari terlempar ke dalam panggung politik utama setelah pembunuhan atas istrinya, Benazir Bhutto, Desember tahun lalu. Saat itu Bhutto menjabat Ketua Partai Rakyat Pakistan PPP. Wartawan BBC di Islamabad, Barbara Plett, mengatakan sejak pembunuhan itu Zardari dilihat banyak orang sebagai perdana menteri dalam kehidupan politik praktis dan hampir dipastikan terpilih sebagai presiden. Dalam beberapa bulan belakangan, Zardari memperlihatkan kemampuan dalam membangun koalisi dan menggunakan kekuatan koalisi untuk menjatuhkan Presiden Pervez Musharraf. Bagaimanapun Zardari sebenarnya merupakan tokoh politik Pakistan yang kontroversial. Selama beberapa tahun belakangan dia dibayang-bayangi dengan tuduhan korupsi besar walau tidak pernah terbukti bersalah di pengadilan. Sementara itu mantan Perdana Menteri Nawaz Sharif telah menarik partainya PML-N dari pemerintahan koalisi karena menuduh Zardari melanggar janji utamanya. Tugas keseimbangan
Banyak warga Pakistan yang kuatir negara mereka akan kembali terjerumus ke dalam konfrontasi politik. Padahal Pakistan saat ini amat membutuhkan stabilitas politik untuk mendukung pembangunan ekonomi dan melawan kelompok Islam radikal. Zardari dilihat sebagai pemimpin pro Barat yang mendukung pernyataan Washington dalam perang melawan teror. Sebagai presiden, Zardari harus menyeimbangkan tuntutan Amerika Serikat dengan kekuatan militer Paksitan dan sentimen anti Amerika di kalangan warga Pakistan. Presiden Pervez Musharraf dianggap gagal dalam menyeimbangkan ketiga kekuatan, namun mendapat pujian dari pemerintah Amerika Serikat dalam ketegasan melawan kelompok Islam radikal. Bagaimanapun di sisi lain marak sejumlah aksi kekerasan oleh kelompok Islam yang menentang posisi Pervez Musharraf yang dianggap terlalu pro Barat. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||