19 Agustus, 2008 - Published 20:53 GMT
Rusia tidak mengindahkan peringatan NATO bahwa hubungan yang normal tidak bisa terjadi sementara pasukan Rusia masih tetap berada di dalam wilayah Georgia.
Menteri luar negeri Rusia, Lavrov menuduh Nato bertindak bias dan berupaya menyelamatkan 'rezim penjahat " di Tbilisi.
Lavrov bersikukuh bahwa Moskow tidak menduduki Georgia dan tidak punya rencana mencaplok wilayah Osetia Selatan yang ingin memisahkan diri dari Georgia.
Sebelumnya, NATO menuntut Rusia menarik mundur pasukannya dari Georgia seperti yang sudah disepakati dalam rencana gencatan senjata yang ditengahi oleh Uni Eropa dan sudah ditandatangani oleh Rusia dan Georgia akhir pekan lalu.
Presiden Rusia, Dmitri Medvedev mengatakan kepada presiden Perancis Nicolas Sarkozy dalam percakapan telepon bahwa penarikan mundur itu akan selesai dilakukan tanggal 21-22 Agustus, dengan pengecualian. Lima ratus pasukan akan tetap ditempatkan di pos-pos penjaga perdamaian di dua sisi perbatasan Ossetia Selatan.
Beberapa pasukan Rusia tampak sudah meninggalkan Gori, kota terbesar Georgia yang paling dekat dengan perbatasan Ossetia Selatan.
Tetapi wartawan BBC di lapangan mengatakan, artileri Rusia masih berada di posisi mereka. Sebagai tambahan,masih terdapat pos-pos pemeriksaan yang didirikan Rusia dekat dengan ibukota Georgia, Tbilisi.
Konflik ini pecah tanggal 7 Agustus lalu ketika Georgia melancarkan serangan ke wilayah separatis Ossetia Selatan yang didukung oleh Georgia, memicu serangan balasan dari pasukan Rusia yang kemudian melaju memasuki jantung Georgia, jauh meninggalkan wilayah Ossetia Selatan.
Kedua belah pihak saling tuduh pihak lawan melanggar rencana damai, dan berbagai laporan mengatakan, sejauh ini sedikit sekali
pertanda akan terjadi penarikan mundur secara besar-besaran.