19 Agustus, 2008 - Published 09:45 GMT
Balabantuan militer dikerahkan di Filipina selatan, satu hari setelah serbuan pemberontak separatis yang meninggalkan 30 korban jiwa.
Ratusan pemberontak Muslim menyerang kota-kota kecil di Provinsi Lanao del Norte hari Senin, menjarah toko dan membakar rumah.
Jurubicara Fron Pembebasan Islami Moro (MILF) mengatakan, seorang panglima yang membangkang bertanggungjawab atas serangan itu.
Tindak kekerasan ini terjadi setelah Mahkamah Agung menangguhkan perjanjian perluasan wilayah otonomi yang bertujuan mengakhiri konflik di selatan.
Pemerintah setuju untuk memperluas zona otonomi Muslim yang ada saat ini di Pulau Mindanao.
Namun, MA menangguhkan perjanjian tersebut awal bukan ini setelah kalangan warga Kristen, yang mayoritas di Filipina, berargumentasi, kesepakatan itu justru akan memperparah perpecahan sektarian.
Bertempur sengit
Dua pekan lalu pemberontak menduduki beberapa desa di Provinsi Cotabato Utara. Militer melancarkan serangan udara dan gempuran artilteri untuk memaksa mereka mundur dan korban dilaporkan jatuh di kedua pihak.
Serangan hari Senin di Provinsi Lanao del Norte terjadi di dekat perbatasan zona otonomi yang ada.
Dalam serangan menjelang fajar, pemberontak menyerang sedikinya dua kota kecil dan beberapa desa di sekitarnya. Pasukan dan polisi bertempur sengit dengan pemberontak di kota kecil Kolambugan dan Kauswagan, yang kebanyakan warganya Kristen.
Sekitar 30 warga sipil dan tentara tewas, sementara beberapa warga disandera oleh gerilyawan yang mundur, kata beberapa laporan.
Ribuan warga mengungsi untuk menjauhi pertempuran.
Panglima militer Filipina Jenderal Alexander Yano mengatakan, pasukan pemerintah akan memburu para pemberontak.