18 Agustus, 2008 - Published 09:15 GMT
Pemberontak separatis menyerang tentara Filipina di beberapa kota kecil di selatan di tengah keresahan soal perjanjian otonomi.
Gerilyawan dari Fron Pembebasan Islami Moro (MILF) menyerang beberapa kota kecil di Provinsi Lanao del Norte, serta membakar beberapa rumah dan toko.
Tentara Filipina tengah memerangi pemberontak, dan, dalam pidato nasional,
Presiden Gloria Arroyo mengatakan, pemberontak akan dikalahkan.
Tindak kekerasan ini terjadi setelah Mahkamah Agung negara itu membekukan kesepakatan teritorial antara pemerintah dan pemberontak.
Pemerintah setuju untuk memperluas kawasan otonomi Muslim yang ada saat ini di Pulau Mindanao dalam upaya mengakhiri bertahun-tahun konflik separatis.
Namun, mahkamah Agung membekukan perjanjian awal bulan ini setelah kalangan Kristen, yang merupakan mayoritas di Filipina, berkilah, kesepakatan itu justru akan memperhebat perpecahan sektarian.
Dua pekan lalu pemberontak menduduki beberapa desa di Provinsi Cotabato Utara.
Militer melancarkan serangan udara dan gempuran artileri untuk memaksa pemberontak mundur dan korban dilaporkan jatuh di kedua pihak.
'Balabantuan' diperlukan
Serangan hari Senin di Provinsi Lanao del Norte terjadi di dekat perbatasan dengan kawasan otonomi yang ada saat ini.
Dalam serangan menjelang fajar, ratusan pemberontak MILF menyerang kota kecil Kauswagan, Maigo dan Kolambugan, kata pihak berwenang.
Beberapa desa di dekat kota kecil itu juga diserang.
Di Kolambugan, tentara dan polisi bertempur dengan pemberontak di pusat kota kecil tersebut, dan beberapa rumah terbakar, kata Walikota Beltran Lumaque kepada salah satu radio setempat.
"Mereka merebut pusat kota, bank pedesaan, dan rumah gadai," kata dia. "Kami memerlukan bala bantuan."
Warga dilaporkan mengungsi dari kawasan yang diserang, dan ada laporan mengenai korban yang jatuh.
Para wartawan kantor berita Prancis, AFP, mengatakan, sembilan jasad tergeletak di tepi jalan salah satu desa.
Jurubicara MILF Eid Kabalu menyalahkan serangan itu pada seorang panglima yang membangkang.
"Pemimpin kami tidak memerintahkan serangan ini. Ini harus dihentikan kalau bisa kukuhkan keterlibatan pasukan kami," kata Eid Kabalu.
Di Manila, President Gloria Arroyo berjanji mengakhiri tindak kekerasan.
"Kami tidak akan memberikan toleransi dan akan melibas setiap upaya untuk mengganggu perdamaian dan pembangunan di Mindanao" kata Arroyo.
Lebih dari 100.000 orang tewas dalam konflik bersenjata yang berlangsung hampir empat dasawarsa di Filipina selatan.
Pemerintah Filipina berharap kesepakatan ekonomi akan membuka perundingan dengan kubu pemberontak.