|
Barat peringatkan Rusia
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Satu hari setelah Rusia secara resmi mengakui kemerdekaan dua provinsi Georgia yang memisahkan diri, Abkhazia dan Ossetia
Selatan, para sekutu Barat Georgia memperingatkan Rusia.
Negara-negara Barat ini memperingatkan Rusia untuk tidak masuk kembali ke era Perang Dingin. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menggambarkan keputusan Moskow ini sebagai upaya mengubah perbatasan yang tidak bisa diterima. "Uni Eropa secara tegas mengutuk keputusan sepihak Rusia mengakui kemerdekaan dua daerah itu," tegas Sarkozy. "Keputusan Rusia yang ditujukan untuk mengubah perbatasan Georgia secara sepihak, jelas tidak bisa diterima." Dia mendesak Rusia untuk memahami dan bekerjasama dengan Eropa.
"Tak ada yang ingin masuk ke zaman Perang Dingin," kata Sarkozy. "NATO bukan musuh. NATO adalah mitra Rusia." Ia juga menyatakan Uni Eropa ingin membangun hubungan yang harmonis dan positif dengan Rusia. Namun untuk saat sekarang semuanya terpulang kepada Moskow untuk mengambil pilihan yang fundamental. Tanggapan Moskow Juru bicara Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin mengatakan Rusia adalah negara terakhir yang menginginkan perang dingin yang baru. Sebelumnya Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband meminta Uni Eropa dan NATO mengambil langkah tegas terhadap Rusia sebagai tanggapan atas tindakan Moskow di Georgia. Dalam pidato di ibukota Ukraina, Kiev, Miliband mendesak Uni Eropa dan NATO untuk mendukung sekutu-sekutu mereka, menyeimbangkan kembali hubungan energi dengan Rusia dan membela hukum internasional. Miliband juga memperingatkan Presiden Rusia Dmitry Medvedev untuk tidak memulai Perang Dingin. Lawatan menlu Inggris itu ke Ukraina dilakukan sehari setelah Medvedev mengakui kemerdekaan dua kawasan Georgia yang memisahkan diri. Dalam perkemgangan lain, Presiden Ukraina Victor Yushchenko mengatakan negaranya menjadi tawanan dalam perang yang dikobarkan oleh Rusia terhadap negara-negara di bekas blok Soviet. Yushchenko mengatakan perang singkat antara Georgia dan Rusia memperlihatkan kelemahan serius pada wewenang PBB dan lembaga-lembaga internasional lainnya. Dia meminta pertahanan Ukraina diperkuat dan mengatakan negaranya akan mempertimbangkan untuk meningkatkan biaya yang harus dibayarkan Rusia untuk menyewa pelabuhan Sevastopol, tempat angkatan laut Rusia di Laut Hitam ditugaskan. Pertempuran antara Rusia dan Georgia dimulai pada tanggal 7 Agustus setelah militer Georgia berusaha merebut kembali dengan paksa provinsi Ossetia Selatan dukungan Rusia yang memisahkan diri. Dia bertemu pada pemimpin di Kiev, sehari setelah Rusia secara resmi mengakui kemerdekaan Ossetia Selatan dan Abkhazia, dua kawasan yang memisahkan diri dari Georgia. Keputusan itu dikutuk oleh para pemimpin Barat dan ada kekhawatiran krisis berikutnya akan muncul Ukraina. Tentara Rusia kemudian meluncurkan serangan balasan dan konflik berakhir dengan pengusiran pasukan pemerintah Georgia dari Ossetia Selatan dan Abkhazia, dan dicapainya gencatan senjata yang ditengahi oleh Uni Eropa. Mitra yang lemah Miliband melakukan pertemuan dengan Presiden Yushchenko dan Menteri Luar Negeri Ukraina, Volodymyr Ohryzko, yang seperti para pemimpin Georgia, ingin bergabung ke dalam NATO.
Usai pertemuan, Miliband mengatakan kepada para mahasiswa di Kiev bahwa upaya Moskow "untuk secara sepihak mengubah peta menandai saat yang penting". Presiden Rusia, katanya, punya "tanggung jawab besar untuk tidak memulai" Perang Dingin baru. Miliband mengatakan tanggapan Uni Eropa dan NATO terhadap "agresi" semacam itu harus berbentuk "penanganan tegas". "Ini berarti mendukung sekutu-sekutu kita, menyeimbangkan kembali hubungan energi dengan Rusia, membela hukum institusi internasional, dan memperbaiki upaya untuk mengatasi 'konflik yang tak terselesaikan'," tegas Miliband. Menteri Inggris itu kembali menolak seruang agar Rusia dikeluarkan dari G8, namun menyarankan Uni Eropa dan NATO untuk mengkaji kembali hubungan dengan Moskow. Protes masyarakat internasional Langkah Moskow itu dikecam keras oleh para pemimpin dunia lainnya. Cina untuk pertama kalinya menyatakan "kekhawatiran" tentang perkembangan di Ossetia Selatan dan Abkhazia, dan mendesak dilakukan dialog. Komentar itu disampaikan di saat pemimpin Cina, Hu Jintao, bertemu Presiden Medvedev di Tajikistan menjelang pertemuan puncak kawasan. NATO mengatakan tindakan Rusia sebagai "pelanggaran langsung" dari resolusi PBB, dan Presiden AS George Bush memperingatkan mitranya dari Rusia bahwa "keputusan tidak bertanggungjawab" itu memperburuk ketegangan di kawasan tersebut. Prancis, yang saat ini menjabat sebagai presiden Uni Eropa, mendesak agar diambil jalan keluar politik. Dalam sebuah wawancara dengan radio Prancis, Menlu Bernard Kouchner memperingatkan bahwa langkah berikutnya dari Rusia bisa jadi adalah membentuk kawasan berbahasa Rusia di dua bekas republik Soviet, yaitu Ukraina dan Moldova. Di provinsi Krimea, di Ukraina selatan, warga etnik Rusia yang menjadi mayoritas memprotes keinginan pemerintah untuk masuk ke dalam NATO dan untuk mengakhiri keberadaan armada angkatan laut Rusia di Laut Hitam. Presiden Rusia Dmitri Dmitry Medvedev juga memperingatkan Moldoba untuk tidak mengulangi apa yang dia sebut sebagai kesalahan Georgia dalam berusaha merebut kembali dengan paksa kawasannya yang memisahkan diri, Trans-Dniester, tempat Rusia menempatkan pasukannya yang berjumlah cukup besar. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||