BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 17 Juli, 2008 - Published 14:31 GMT
 
Email kepada teman   Versi cetak
4 terdakwa bom Madrid bebas
 
Serangan bom di kereta Madrid
Pemboman kereta di Madrid menewaskan 191 orang
Mahkamah Agung Spanyol membalikkan vonis empat orang yang dinyatakan bersalah karena terlibat dalam pemboman kereta di Madrid pada tahun 2004.

Keempat orang itu termasuk di antara 21 orang yang tahun lalu dinyatakan bersalah terlibat dalam serangan tersebut yang menewaskan 191 orang.

Mahkamah Agung juga mempertahankan keputusan pengadilan untuk membebaskan seorang tersangka berkewarganegaraan Mesir yang dituduh sebagai otak serangan tersebut, karena dia sudah divonis dengan dakwaan itu di Italia.

Namun MA Spanyol memvonis dan menjatuhkan hukuman penjara kepada satu orang yang pada pengadilan sebelumnya dinyatakan tidak bersalah.

Pria Spanyol itu, yang dijatuhi hukuman empat tahun penjara, sebelum dibebaskan dari tuduah membantu memasok bahan peledak yang digunakan dalam serangan Madrid.

Otak serangan

Seorang pria Mesir, Rabei Osman Sayed Ahmed, dibebaskan dari tuduhan terlibat dalam pemboman pada bulan Oktober.

Rabei Osman Sayed Ahmed
Rabei Osman Sayed Ahmed sudah divonis di Italia

Karena dia sudah divonis delapan tahun penjara di Italia karena menjadi anggota organisasi teroris, Mahkamah Agung memutuskan dia tidak bisa dinyatakan bersalah lagi atas kejahatan yang sama.

Jaksa penuntut mengatakan Sayed sudah mengajukan banding terhadap putusan pengadilan di Italia itu dan secara teknis dia belum divonis.

Para pengacara Sayed dalam kasus di Spanyo itu menantang bukti utama yang merupakan rekaman suara orang menjadi menjadi otak serangan bom di Madrid.

Mereka mengatakan suara itu bukan suara klien mereka dan perkataan di dalam rekaman itu salah diterjemahkan.

Mengubah jalan sejarah

Bulan Oktober lalu, sebuah pengadilan Spanyol membebaskan tiga pria dari dakwaan menyusun serangan dan membebaskan tujuh orang lainnya, sementara memvonis 21 orang karena terlibat dalam serangan tersebut.

Banyak kelompok yang mewakili para korban marah dengan pembebasan itu dan mengatakan hukuman yang dijatuhkan jauh lebih rendah dari yang dituntut oleh jaksa.

Bunga mawar untuk mengenang korban
Keputusan MA diduga akan dikecam keras oleh keluarga korban

Keputusan untuk membalikkan sebagian vonis itu akan semakin membuat marah kelompok-kelompok tersebut, kata wartawan BBC di Madrid, Danny Wood.

Jesus Ramirez, salah satu korban pemboman yang selamat, mengatakan dia menerima putusan pengadilan meski dia tidak menyetujuinya.

"Meski kami menentangnya di dalam hati, mereka punya informasi lebih banyak dan telah menimbang bukti dan mengambil putusan," katanya kepada kantor berita Associated Press.

Sementara Luca D'Auria, pengacara Sayed, menyatakan kepuasannya atas putusan tersebut.

Pemboman Madrid - di mana 10 bom yang dibawa di dalam ransel menghancurkan empat kereta yang padat penumpang pada tanggal 11 Maret 2004 - adalah serangan teror paling maut di Eropa sejak pemboman Lockerbie pada tahun 1988.

Para pengamat mengatakan serangan itu mengubah jalan sejarah Spanyol karena dalam pemilihan tiga hari kemudian para pemilih untuk pertama kalinya tidak memberi dukungan kepada pemerintah konservatif yang pada awalnya menuduh kelompok separatis Spanyol, ETA, bertanggungjawab atas serangan tersebut.

Tim penyelidik Spanyol mengatakan para pembom adalah bagian dari kelompok militan Islam setempat yang mendapat inspirasi dari al-Qaida, namun tidak memiliki hubungan langsung dengan organisasi tersebut.

Mereka bertindak untuk membalas peran tentara Spanyol di Irak dan Afghanistan, kata para penyelidik.

 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman   Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy