|
IMF: Inflasi harus diatasi
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan tindakan untuk mengatasi inflasi harus menjadi prioritas utama pembuat kebijakan
di seluruh dunia.
Dalam laporannya tentang perkiraan perekonomian global, IMF mengatakan banyak perekonomian yang terhimpit di antara permintaan yang menurun tajam dan kenaikan harga yang pesat.
Tetapi jurubicara IMF mengatakan berbagai negara harus mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga untuk menghindari persoalan ekonomi yang lebih serius tahun depan. IMF itu menaikkan perkiraan ekonomi global setelah dampak dari kredit macet perumahan di Amerika Serikat tidak seburuk yang sebelumnya dikhawatirkan. Lembaga itu mengatakan mereka memperkirakan perekonomian global akan tumbuh 4,1% pada tahun 2008, lebih tinggi dari perkiraan semulai sebesar 3,7% pada bulan April. Ini dibandingkan dengan pertumbuhan 5% pada tahun 2007. Namun IMF memperingatkan perekonomian dunia tetap berada pada "titik sulit" dan para pembuat kebijakan perlu mempertahankan pertumbuhan yang seimbang sementara pada saat yang sama mengatasi inflasi. Kasus Indonesia
Pengamat ekonomi dari Universitas Cornell, Amerika Serikat, Prof. Iwan Jaya Aziz mengatakan masalah inflasi di negara maju dan negara berkembang memiliki intensitas yang berbeda sehingga cara penanggulangan inflasinya pun tidak bisa sama. Karena itu, menurut Iwan Jaya Aziz, seruan dari IMF ini harus dipertanyakan. Menurut dia pemerintah harus mempertimbangkan dampak dari kebijakan menekan inflasi itu. Harga pangan dan energi di negara berkembang merupakan persoalan yang sangat besar karena sudah meningkatkan jumlah orang miskin dan jumlah pengangguran. "Kalau mengikuti cara yang biasanya ditawarkan IMF yaitu kebijakan mengurangi agregat permintaan yaitu dengan cara menaikkan suku bunga dan mengetatkan anggaran, dampaknya adalah jumlah kemiskinan akan semakin besar, jumlah pengangguran pun akan semakin besar," tambah Iwan Jaya Aziz. Karena itu dua cara ini yaitu menaikkan suku bunga bank dan mengetatkan anggaran, menurut Iwan Jaya Aziz, justru harus dihindari oleh pemerintah Indonesia. Dia mengatakan, pemerintah seharusnya berani memilih kebijakan defisit anggaran yang cukup besar dengan harapan itu bisa menumbuhkan perekonomian yang pada akhirnya bisa menyerap tenaga kerja. Selanjutnya dia mengatakan pemerintah Indonesia untuk jangka pendek masih bisa melakukan hal-hal seperti perbaikan prasarana umum untuk memperlancar distribusi barang yang pada akhirnya bisa menekan inflasi. Revisi Laporan IMF itu mengatakan penyebab utama lonjakan inflasi adalah melonjaknya harga makanan dan bahan bakar minyak. IMF mengatakan sebagian negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah kemungkinan sulit memberi makan warganya yang termiskin.
Namun lembaga keuangan itu memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan pulih secara bertahap mulai tahun depan. Komentar IMF itu kemungkinan akan menenangkan kekhawatiran negara-negara dengan perekonomian maju yang bergerak ke arah resesi yang berkepanjangan, yang dipicu oleh krisis kredit perumahan di Amerika Serikat. Berdasarkan penghitungan baru, IMF memperkirakan perekonomian Amerika Serikat akan menunjukkan perbaikan, dengan perkiraan pertumbuhan 1,3% naik dari perkiraan 0,5% yang dibuat pada bulan April. Namun lembaga ini memperingatkan perekonomian ekonomi diproyeksikan "untuk mengalami perlambatan yang tidak terlalu drastis pada enam bulan terakhir tahun depan". Bertahan IMF menambahkan ancaman bagi perekonomian dunia dari sektor keuangan tetap besar dan mengatakan inflasi semakin menjadi kekhawatiran.
"Inflasi meningkat pada perekonomian maju dan berkembang, meski terjadi perlambatan," kata IMF dalam laporannya. Badan itu juga mengatakan bahwa bank sentral dan pemerintah harus menangani masalah kembar yaitu pertumbuhan ekonomi yang melesu dan peningkatan inflasi, yang didorong oleh kenaikan harga minyak dan makanan. "Para pembuat kebijakan menghadapi masalah yang sangat sulit," kata IMF. "Mereka harus mengatasi tekanan dari kenaikan inflasi, dan pada saat yang bersamaan juga harus memperhatikan dampak negatif terhadap pertumbuhan." Tentang catatan yang lebih positif, IMF mengatakan permintaan pada perekonomian maju dan berkembang kemungkinan akan lebih mampu bertahan dibandingkan perkiraan semula, dengan kenaikan harga komoditas baru-baru ini, dan ini kemungkinan dapat menangkis guncangan dari sektor keuangan. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||