BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 08 Juli, 2008 - Published 09:48 GMT
 
Email kepada teman   Versi cetak
Sasaran pengurangan emisi G8
 
Pemanasan global
Diharapkan 200 negara anggota PBB lain bergabung dalam sasaran ini
Para pemimpin G8 sepakat untuk mencapai sasaran pengurangan emisi karbon setidaknya sampai 50% pada Tahun 2050 untuk mengatasi pemanasan global.

Perdana Menteri Jepang, Yasuo Fukuda, yang menjadi tuan rumah KTT G8 2008 mengumumkan sasaran itu setelah perundingan sepanjang malam.

Pernyataan tersebut memperkuat janji G8 tahun lalu untuk mempertimbangkan dengan serius pengurangan emisi karbon.

Para pemimpin G8 juga mengungkapkan keprihatinan atas ancaman yang dihadapi dunia karena meroketnya harga minyak.

Harga minyak mentah sudah meningkat dua kali lipat sejak KTT G8 tahun lalu, dengan mencapai sekitar US$ 146 per barel.

Dalam kajian ekonomi global tahunan, para pemimpin mengatakan tetap positif dengan daya tahan ekonomi jangka panjang mereka, selama masing-masing negara menahan diri untuk tidak memberlakukan halangan perdagangan.

KTT G8 yang berlangsung di Pulau Hokkaido, juga akan dihadiri oleh para pemimpin 15 negara mitra, termasuk Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.

Secara global
G8
Keprihatinan AS dimasukkan dalam pernyataan di Hokkaido

Wartawan BBC, Bridget Kendall, yang meliput KTT ini mengatakan tidak ada penjelasan yang disampaikan tentang penyebab dari meroketnya harga minyak dan juga harga pangan.

Juga tidak ada jalan keluar yang nyata untuk mengatasi peningkatan harga minyak dan pangan.

Pernyataan G8 tahun ini sebenarnya mengulang pandangan bersama untuk mencapai sasaran sedikitnya 50% dari tingkat emisi sekarang pada Tahun 2050.

Namun ditambahkan mereka mengharapkan agar 200 negara anggota PBB lainnya juga ikut bergabung dalam sasaran itu.

Disebutkan juga bahwa untuk mencapai kemajuan, maka negara-negara G8 harus mengambil peran memimpin dalam mencapai tujuan jangka menengah yang ambisius lewat perencanaan tingkat nasional.

Dalam pernyataan itu, dimasukkan pula keprihatinan Amerika Serikat kalau kemajuan nyata baru akan tercapai jika dilakukan secara global.

Perubahan iklim merupakan masalah yang paling rumit di kalangan para pemimpin G8 karena perbedaan dalam sasaran yang akan dituju dan apa yang diharapkan dari negara-negara berkembang.

Tidak ada jaminan
G8
Akan hadir juga 15 negara mitra G8, termasuk Indonesia

Seorang pejabat Amerika Serikat, yang tidak bersedia disebutkan namanya, mengatakan kesepakatan ini mencerminkan kemajuan mendasar.

Sementara itu wartawan Lingkungan BBC, Richard Black, mengatakan langkah maju Amerika Serikat untuk menyepakati sasaran jangka panjang amat ditentukan.

Namun dia mengatakan kesepakatan G8 di Hokkaido memperlihatkan sasaran yang kurang ambisius dibandingkan dengan keinginan para pegiat lingkungan dan ilmuwan, khususnya dalam menentukan sasaran jangka pendek.

Pernyataan Hokkaido juga menyebutkan anggota G8 akan menerapkan sasaran 50% jika negara-negara berkembang dengan perekonomian besar juga sepakat untuk mencapai sasaran serupa.

Dan tak ada jaminan negara-negara ekonomi baru sepakat untuk masuk ke dalam sasaran Hokkaido.

Perdana Menteri Jepang mengatakan dia akan meminta kerjasama dari Cina dan Indoa, pada saat 15 negara mitra G8 bergabung di Hokkaido Rabu, 9 Juli 2008.

Kelompok lingkungan WWF mengatakan sasaran Tahun 2050 itu tidak cukup dan tak banyaknya kemajuan sebagai hal yang menyedihkan

Sementara kelompok pelobby lingkungan, The Tear Fund, berpendapat kesepakatan G8 di Hokkaido ini mengecewakan.

 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman   Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy