|
Bursa Asia terus turun
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Bursa-bursa saham Asia hari ini mengalami berlanjutnya penurunan, yang didorong oleh kekuatiran atas kesulitan ekonomi Amerika
Serikat.
Indeks Nikkei di Bursa Tokyo --yang merupakan salah satu bursa utama dunia-- turun selama 10 hari berturut-turut, dan ini merupakan penurunan terpanjang dalam 40 tahun terakhir. Sementara indeks di Bursa Shanghai mencapai posisi terendah dalam waktu 16 bulan belakangan. Wartawan ekonomi BBC, Mark Gregory, melaporkan penurunan di bursa-bursa saham Asia ini mencerminkan masa yang suram dalam pasar keuangan dunia. Sebelumnya, pada Bulan Juni, Bursa Wall Street New York berada dalam posisi terburuk sejak masa depresi Tahun 1930-an lalu. Bagaimanapun perdagangan di pasar Eropa sedikit terangkat pada sesi perdagangan awal, walau dalam beberapa pekan menderita penurunan. Mengingkari kenyataan
Para pengamat mengatakan penyebabnya adalah investor di seluruh dunia harus menanggapi harga minyak yang meroket, melemahnya pertumbuhan ekonomi, dan --pada saat bersamaan-- terjadi krisis kredit yang menyebabkan ambruknya beberapa lembaga keuangan besar. Pengamat keuangan Roger Bootl dari Capital Economics di London, menjelaskan turunnya harga saham belakangan karena awalnya masih ada keengganan investor untuk mengakui kenyataan. "Hingga beberapa waktu lalu, mereka membayangkan masalah di sektor kredit perumahan di Amerika Serikat akan bisa teratasi dan tidak akan merambah ke ke luar dari sektor perbankan dan lembaga-lembaga keuangan," kata Bootl. Padahal kenyataannya, seperti dijelaskan Roger Bootl, tidaklah demikian karena di negara lain juga ada masalah sektor perumahan. "Pasar saham bisa dikatakan berasumsi persoalan ekonomi dunia tidak buruk-buruk amat. Padahal kenyataannya tidak seperti itu," tambahnya. Masalah dunia
Di Inggris, bos industri retail utama Mark and Spencer, memperingatkan 'masa depan dengan badai' dalam perekonomian Inggris karena menurunnya keyakinan pelanggan telah mempengaruhi penjualan. Sir Stuart Rose juga memperkirakan masalah perekonomian Inggris merupakan masalah 2 tahun dan bukan masalah 2 bulan. "Ini persoalan sederhana. Pelanggan merasakan cubitannya," kata Stuart Rose. "Saya tidak percaya ada perusahaan yang akan kebal. Ini persoalan ekonomi Inggris, ini persoalan ekonomi dunia," tambahnya. Harga saham M&S turun sampai 20% setelah munculnya komentar Stuart Rose tersebut. Namun, suka tidak suka, tingkat penjualan di Inggris turun sampai 5,3% dalam waktu 3 bulan belakangan. Data lainnya menunjukkan naiknya harga BBM telah menyebabkan turunnya penjualan di pusat-pusat perbelanjaan di pinggiran kota. Para pengunjung pusat perbelanjaan di Inggris pada Bulan Juni turun 5,8% dibanding pada periode yang sama tahun lalu. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||