15 Mei, 2008 - Published 15:37 GMT
Negara-negara yang mengirimkan bantuan bagi para korban topan di Birma harus memantaunya dengan seksama untuk mencegah bantuan diambil oleh rezim militer, kata kelompok Human Rights Watch.
HRW mengatakan bantuan tidak bisa ditinggalkan saja di bandara Rangoon karena pasokan belum tentu sampai ke para korban yang membutuhkan.
Media pemerintah Birma mengatakan jumlah korban jiwa mencapai 43.318 orang dengan 27.838 orang masih hilang kata kantor berita AFP.
Rezim Birma melarang sebagian besar pekerja bantuan asing yang sudah berada di Birma meninggalkan Ranggon untuk pergi ke daerah bencana.
Lebih dari 10 hari setleah Topan Nargis menyapu kawasan delta Irrawaddy, wartawan BBC Natalia Antelava, yang berhasil mencapai daerah itu, mengatakan delta masih terputus dari dunia.
Dia mengatakan tentara menutup jalan tetapi para nelayan membawanya ke daerah bencana dengan kapal. Seorang nelayan mengatakan dia ingin dunia mengetahui apa yang terjadi di sana.
Di satu desa, 20 orang yang selamat dari gempa tinggal di satu-satunya rumah yang masih berdiri dan memakan nas serta meminum air hujan selama 10 hari.
Biskuit diambil
Brad Adams, direktur Human Rights Watch untuk Asia, mengatakan: "Tanpa pemantau independen di lapangan, kami tidak dapat memastikan bantuan mencapai orang-orang yang paling membutuhkan."
Dia mengatakan terdapat sejumlah laporan beberapa pasukan sudah dialihkan ke pihak militer.
HRW mengatakan pihaknya bisa mengukuhkan laporan-laporan kantor berita bahwa biskuit yang mengandung protein tinggi sudah diambil oleh militer dan diganti dengan biskuit lebih murah buatan lokal.
Organisasi itu mengatakan bantuan dari penerbangan yang meningkat jumlah setelah diizinkan oleh pihak junta dalam beberapa hari terakhir diserahkan kepada militer untuk dibagikan.
HRW mengatakan mereka "tetap mengkhawatirkan kurangnya pemantauan di bandara Rangoon dan pada proses transportasi untuk memastikan semua bantuan sampai ke korban seperti yang direncanakan."
Para jenderal Birma kini mengatakan mereka akan membolehkan 160 pekerja bantuang asing masuk ke negara itu, serta tim bantuan dari ASEAN, setelah mendapat tekanan internasional.
Namun tidak jelas apakah mereka akan dibolehkan keluar dari Rangoon dan pergi ke daerah-daerah bencana di kawasan delta.