|
Perkiraan korban bencana Birma
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
PBB meningkatkan jumlah perkiraan korban angin topan Nargis yang melanda Birma menjadi sekitar dua setengah juta jiwa.
Angka itu ditingkatkan dari satu setengah juta jiwa yang diperkirakan memerlukan bantuan, menyusul angin topan yang melanda sekitar 12 hari lalu. Sejak angin topan menerjang, sangat sedikit pekerja bantuan asing yang diijinkan masuk ke Birma untuk menyalurkan bantuan. Ditengah perkiraan cuaca tentang terjangan angin topan lain, angka resmi jumlah korban yang meninggal hampir 38.500 dan lebih dari 27.838 lainnya hilang. Namun Palang Merah memperingatkan angka sebenarnya kemungkinan bisa mencapai 128.000 jiwa yang tewas. Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon mengatakan ia "menyesali" PBB yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk melakukan koordinasi dan bukannya menyalurkan bantuan, ditengah klaim kerasnya junta militer. Seorang wartawan yang menyamar mengatakan bantuan masih sangat sedikit di Birma. Di bawah tekanan Inggris yang menghimbau dilakukannya pertemuan darurat, Ban Ki-moon kembali melakukan pertemuan dengan negara donor dan negara-negara ASEAN di New York hari Rabu. "Walaupun pemerintah (Birma) telah menunjukkan sedikit fleksibilitas, saat ini masih sangat sangat sedikit," katanya. Pemimpin Thailand Samak Sundaravej terbang ke Rangoon untuk mengadakan pertemuan dengan Perdana Mentri Birma, Thein Sein, namun mengatakan junta tetap berkeras mereka tidak memerlukan bantuan dari luar. "Ia menekankan bahwa negaranya dapat menangani masalah itu sendiri," kata Samak di Bangkok setelah kunjungan ke Birma. PBB menuduh para jendral meningkatkan keamanan di pos-pos perbatasan untuk menjaga agar orang asing tidak masuk." |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||