14 April, 2008 - Published 10:09 GMT
Kenaikan harga pangan yang berlangsung cepat bisa mendorong 100 juta orang di negara-negara miskin semakin menderita, demikian disampaikan kepala Bank Dunia Robert Zoellick.
Pernyataan ini disampaikan menyusul peringatan serupa yang dikemukakan pejabat senior Dana Moneter Internasional (IMF), yang mengatakan ratusan ribu orang bisa mengalami kelaparan akibat harga pangan yang terus membumbung tinggi.
Zoellick mengusulkan satu rencana aksi untuk meningkatkan produksi pertanian dalam jangka panjang.
Dalam beberapa waktu terakhir terjadi kerusuhan akibat tingginya harga pangan di sejumlah negara, termasuk di Haiti, Filipina, dan Mesir.
"Berdasarkan analisis kasar, kami memperkirakan kenaikan pangan sebesar 200 persen dalam tiga tahun bisa membuat 100 warga miskin di berbagai negara semakin menderita," ujar Zoellick.
Proposal untuk mengatasi krisis pangan internasional ini didukung oleh panitia pengarah pertemuan menteri-menteri keuangan dan pembangunan di Washington.
Bank Dunia dan IMF menggelar pertemuan pada akhir pekan yang ditujukan untuk mengatasi kenaikan harga pangan dan energi dan juga krisis kredit yang mengganggu pasar keuangan global.
Kerusuhan di beberapa negara
Harga pangan naik tajam dalam beberapa bulan terakhir, disebabkan oleh tingginya permintaan dan cuaca buruk di beberapa negara penghasil pangan. Gangguan ini menyebabkan panen menurun.
Selain itu, lahan untuk menghasilkan bahan bakar bio juga makin meningkat.
Harga bahan pokok seperti gandum, beras, dan jagung semuanya naik, menyebabkan kenaikan pangan secara keseluruhan mencapai 83 persen dalam tiga tahun terakhir, kata Bank Dunia.
Kenaikan tajam harga pangan menyebabkan protes di banyak negara termasuk di Mesir, Pantai Gading, Ethiopia, Filipina, dan Indonesia.
Di Haiti, aksi protes pekan lalu berubah menjadi kerusuhan, menyebabkan lima orang tewas dan pemerintah harus mengundurkan diri.
Beberapa negara produsen pangan utama seperti India, Cina, Vietnam, dan Mesir telah memberlakukan pembatasan ekspor.
Kebijakan ini membuat beberapa negara pengimpor pangan terpukul, seperti Bangladesh, Filipina, dan Afghanistan.
"Kita harus memberikan bantuan dana kepada orang-orang yang kelaparan," tegas Zoellick.
Dia menyerukan agar negara-negara miskin dan para petani kecil mendapatkan lebih banyak bantuan. Dia mengatakan Bank Dunia berupaya membantu para petani membeli benih untuk musim tanam mendatang.
Dia juga mendesak negara-negara kaya dengan cepat menutup kekurangan anggaran di organisasi PBB Program Pangan Dunia yang mencapai 500 juta dolar.