|
Korut langgar batas waktu
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Korea Utara gagal memenuhi batas waktu untuk memberikan rincian program nuklirnya pada akhir tahun 2007.
Pyongyang berjanji memberikan pernyataan rinci kegiatan nuklirnya selambatnya tanggal 31 Desember, tetapi Amerika menegaskan hal tersebut belum dilakukan. Korea Selatan, Jepang dan Amerika Serikat menyatakan kekecewaan terhadap kegagalan Korut memenuhi batas waktu tersebut. Kesepakatan tersebut merupakan bagian dari persetujuan perlucutan dimana sebagai imbalannya Pyongyang akan menerima bantuan dalam jumlah besar. Pihak Utara menyepakati persetujuan tersebut dalam perundingan enam pihak bulan Februari. Negara negara yang terlibat dalam proses tersebut adalah Cina, AS, Jepang, Rusia dan kedua Korea. Kekhawatiran internasional Pyongyang mulai proses penutupan Yongbyon bulan Oktober di bawah pengawasan ahli Amerika. Meskipun perlucutan tersebut tidak memenuhi batas waktu akhir tahun ini, para pengamat memandang hal ini hanya karena masalah teknis. Berbagai pihak lebih mengkhawatirkan keterlambatan menghasilkan pernyataan tertulis kegiatan nuklir Korut. Para pengamat hal ini merupakan ukuran utama apakah Pyongyang akan memenuhi perjanjian negara tersebut akan bebas nuklir. Sementara batas waktu semakin dekat, sejumlah negara menyatakan kekhawatiran tentang lambannya kemajuan.
Departemen luar negeri Jepang memandang tidak adanya pernyataan tersebut "patut disayangkan", dan mengatakan Korea Utara harus memberikan hal tersebut "secepatnya". Departemen luar negeri Korea Selatan juga mempunyai pandangan yang sama tentang rekannya di utara, mendesak negara tersebut untuk "segera mengungkapkan seluruh program nuklir, dan secepatnya menyelesaikan langkah langkah perlucutan". Begitu batas waktu terlewat, jurubicara departemen luar negeri AS, Tom Casey mengatakan: "Tidak terjadi perubahan di saat saat terakhir... Hal ini sangat disayangkan tetapi kami akan bekerja berdasarkan hal ini." "Saya perkirakan akan terjadi perundingan dalam beberapa hari ke depan, diantara berbagai pihak, untuk memikirkan langkah selanjutnya." Amerika terutama ingin mengetahui jumlah plutonium yang diproduksi Korea Utara, dan juga menerima bukti tidak terdapat program rahasia pengayaan uranium untuk tujuan pembuatan senjata. Permulaan bulan ini, presiden AS George Bush mengirimkan surat pribadi kepada pemimpin Korea Utara, Kim Jong Il, mendorongnya untuk memenuhi janji pada perundingan enam pihak. Surat tersebut disampaikan utusan Amerika, Chritopher Hill, yang mengunjungi Korea Utara permulaan bulan ini untuk melakukan pengkajian. Setelah mengunjungi fasilitas tersebut, Hill mengatakan proses perlucutan "berjalan baik sesuai jadwal". |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||